Mencari Manusia

Tahun 4017. Bumi, tempat segala mahluk yang bernafas. Semua mahluk dari semua spesies binatang, sedang mencari sebuah sosok mahluk hidup, yang bernama Manusia. Manusia yang menjadi sosok legenda dalam sejarah mahluk hidup, yang disebutkan memiliki intelegensia tertinggi dalam teori evolusi.

Jejak keberadaan Manusia ini sedang dicari para mahluk hidup yang ada. Mereka yang ada di bumi di masa ini, tidak ada yang percaya ada Manusia dalam teori evolusi. Singa. Harimau. Ikan Lele. Semut. Lalat. Semua jenis mahluk ini sudah ber-evolusi menuju strata kecerdasan komunikasi universal dengan bahasa universal dan penciptaan intelektual. Ruang – ruang bumi diisi dengan karya penciptaan dan kemajuan teknologi tanpa Manusia di dalamnya.

Kelompok Anjing, yang bersikeras ada sosok Manusia dalam evolusi Bumi menggiatkan penelitian dan pencaharian sesosok Manusia. Mereka ingin membuktikan bahwa Manusia pernah ada, dan teknologi yang mereka pakai sekarang dan nikmati adalah sumbangsih dari Manusia. Kelompok Anjing ini menurut pemimpinnya memiliki kedekatan emosional dengan Manusia karena dalam teorinya, cerita turun – temurun nenek moyangnya Anjing dahulunya sobat peliharaan dari Manusia.

Usaha kaum Anjing ini, dalam tataran kecerdasan intelektual dan penelitian di Bumi, sangat dihargai oleh mereka yang hidup.

Kelompok Merpati menyampaikan, bahwa Manusia hanya ada dalam buku – buku tentang Agama, yang tanggapan terhadap keberadaannya sama perlakuannya dengan tanggapan terhadap keberadaan Tuhan.

Di sebuah strata kecerdasan yang lebih tinggi, kelompok Monyet yang banyak menjadi pejabat pemerintahan Bumi menyampaikan:

“Jika evolusi yang menghasilkan mahluk yang bernama Manusia benar adanya, maka kami kelompok Monyet ini tidak akan pernah kalian temui!”

Tahun – tahun yang berjalan selanjutnya itu, masa dimana Manusia serupa mitos.

 

 

Advertisements

Indonecake Nusantarah

Apakah selamanya politik itu kejam?” ini lrik lagu Iwan Pales yang tersohor (kalau liriknya tidak salah) di Indonesia. Jawabnya, kita tanya pada rumput yang bergoyang. Kalau Bung Iwan adanya di negaranya Evo Morales ; Castro atau Hugo mungkin lagu tersohor jenis mewek politik ini mungkin tidak ada. 

Sejak mempunyai dan mengenal kepentingan dalam bingkai kebutuhan, manusia sudah mulai melakukan aksi “politik”. Aksi politik dan paling abadi manusia adalah saat “meminta” kepada Sang Maha. Manusia akan menawarkan, membujuk, menjanjikan, memposisikan kenapa dan seperti apa hingga pada akhir tahapan yakni meminta. Setelah mendapatkan, beberapa “politikus” ini mulai lupa dan menyusun posisi tawar baru untuk mendapatkan sesuatu tujuan atau kepentingan baru. Politik era sekarang itu cara mendapatkan kekuasaan dalam negara secara konstitusional atau mungkin inkonstitusional.

Konon, materi adalah dorogan terkuat manusia berpolitik. Materi yang sebesar-besarnya untuk mencapai kemanan dan kenyamanan kemudian kekuasaan adalah puncak kepentingan dalam berpolitik.

Segerombolan monyet pernah dijadikan objek penelitian dan diperkenalkan tentang uang sebagai nilai tukar, dimana (ironi) akhirnya para monyet betina, “melacurkan” diri untuk mendapatkan “uang” dari monyet lainnya. :)) Jadi politik kepentingan dalam monyet sebagai primata yang paling mendekati dna manusia kala itu adalah “melacur” untuk uang. Apakah seekor monyet yang ber – uang menjadi “penguasa”? dalam praktek negara, “monyet ber – uang” bukan penguasa secara konstitusional, tapi dia memiliki posisi tawar untuk mengarahkan penguasa.

Bagaimana politik di era (kenegaraan) sekarang ?

Saya lahir dengan sangat terbatas pemahaman dan pengalaman, yang saya lewati adalah masa negara di bawah pemerintahan Si Smiling General Suhartyo yang saya tidak pernah tahu, lihat dan rasakan bobroknya dan hebatnya kekuatan politiknya, manajemen konflik hingga manajemen bagi – bagi kuenya. Apa yang dilakukan beliau selama 32 tahun ? Yang saya tahu, sekarang Indonesia sembrawut bagai pasien dengan “dokter luar” dan tak sembuh – sembuh setelah 30 tahun lebih si jenderal berkuasa. Tragedi 98 yang tersohor itupun tidak pernah saya tahu benar-benar ada atau rasakan langsung kecuali ketika saya mulai membaca buku-buku di era reformasi dan lihat cuplikan film “dibalik 98” atau mendengar cerita orang jakarta pelaku penjarahan.

Ternyata ada aksi yang bermuatan politik menyedihkan bikin miris oleh “siapa” ; “kenapa” ; tapi jelas untuk menggoyang si jenderal senyum demi mendapatkan kekuasaan dan tancapkan kepentingan baru – yang peristiwanya sangat dahsyat kala itu. Jaya Suparno (dengan identitas ke – cina – annya) bahkan sampai menyurati Ahok (disebut pejabat yang tak sopan dan santun bicara) secara terbuka dalam media (lupa namanya) karena takut bayang – bayang tragedi mei 98 terulang.

Reformasi sudah usia sweet seventeen (17) tahun tapi tak ada yang kondisi atau kejadian WOOOW gitu setelah tragedi itu ; Para pelaku reformasi konon sedang berkompromi di gedung DePR atau di ruang – ruang ber – AC lainnya. 

Era Habie2 ; Era Gus ; Era Mega ; Era eSBY sudah terlewati . . . dan sekarang Era Joko . . . Sama – sama kompromis terhadap “kepentingan luar”, artinya di sini tidak masalah siapa penguasa selama kepentingan “mereka” tidak terganggu dan mulus. Hanya ganti penerima porsi kue. 

Kepentingan dalam kekuasaan politik yang (kuat) membuat para tokoh yang berdiri di masing – masing era, tentu harus (terpaksa) menjaga “kepentingan” orang – orang yang “mendukung” mereka ; yang berdiri di belakang mereka. Yang tentunya dengan pertimbangan yang akan selalu ada tapi masyarakat tidak pernah tahu. Siapa ? Lihat saja siapa yang mendapat keuntungan dalam kepemimpinannya. Mungkin ada kepentingan keluarga ; kepentingan kenalan sekitar ; kepentingan tokoh partai pengusung ; kepentingan konsolidasi kompromis tokoh partai lain ; kepentingan pengusaha donatur lokal ; kepentingan pengusaha donatur luar ; kepentingan negara pengusaha donatur luar dan kepentingan negara yang berkepentingan ekonomi atau ideologi. :)) atau jangan – jangan demi kepentingan negara kita sendiri. Kekuasaan adalah alat untuk menguasai ekonomi ; sosial budaya dan (mungkin) ideologi.

Di negara kita, settingan tipe kepemimpinannya sudah tertebak dengan mudah. Para pemimpin itu, jika tidak menjadi “pelacur” maka sekaligus atau sekedar menjadi mami atau papinya atau bahasa halusnya kaki tangan untuk memuluskan kepentingan pemburu keuntungan. Contoh real – nya adalah pembangunan (untuk mendongkrak ekonomi) yang butuh modal harus bisa menarik investor dan saya tidak pernah tahu jurus cara menarik investor kecuali dengan jaminan atau iming – iming keuntungan bagi investor, bisa berupa lembaga rentenir swasta, milik negara atau bahkan internasional . . . :))

Politik itu kejam di Indonecake ? Ya . . . kejam sekali berkali lipat melebihi kejamnya ibu tiri di sinetron pertelevisian di negeri kita. Rakyat sekedar dan hanya jadi objek (penderita). Para penguasa dan pelaku politik (dan orang dibelakangnya) bagi – bagi kue besar bernama Indonecake Nusantarah. Rakyat juga tentu dan pastinya dapat bagian tapi hanya atau setelah dikalkulasi sisa atau tidak merugi kue bagiannya. :))

Kalkulasi remah kue untuk kepentingan rakyat di era Jokowi sedang di arahkan kembali pada investasi ekonomi sebesar-besarnya yang tentu dan jelas akan berdampak positif pada kehidupan rakyat. Tidak semua rakyat mungkin tapi tetap dan pasti ada remah-remah kue yang sampai ke rakyat minimal aroma kuenya. Investornya sudah mendekat dari saudara asia. Akhir – akhir ini banyak saudara sebumi asia liburan di bali, bisa sebagai pertanda arah penguasa menjalin kerjasama dengan negara mana (terawangan kasar) tapi tetap itu pilihan penguasa menarik negara investor dengan iming – iming keuntungan dengan tidak lupa keuntungan bagi “pihak” – nya.

Politik kepentingan itu diselesaikan di meja – meja para penguasa dan atau pengusaha ; hotel bintang lima atau ruang – ruang terbatas jauh dari genjrengan gitar unyil dengan lagu pengamen lampu  merah. Faktanya, rakyat tidak perduli selama ada dampak yang nyata. Terbukti di masa Om “Enaaak Zamaaankuuu toooh?” yang ternyata kronisnya sampai hari ini. Bodoh politik itu dosanya bisa dimaklumkan. 

Sekarang, tinggal menunggu, melihat dan menikmati seperti apa bagian kue yang akan rakyat dapatkan di era Joko? Tak perlu muluk – muluk bicara penegakan hukum yang bobrok, itu bobroknya sudah dari zaman Indonesia merdeka. KKN itu sudah berurat berakar. Penegak hukum berbuat benar itu harus di – MURI – kan. Mental feodalisme yang hormat pejabat (penjahat) berdasi dan garang sama rakyat tertindas sudah melekat kuat dan dimaklumkan. Ekonomi yang tidak mandiri itu sudah sejak zaman Indonesia merdeka, dan ketergantungannya sampai zaman presiden entah sampai siapaaa . . . 🙂 Pilihannya adalah yang buruknya dikit diantara yang buruknya banyak kali.

Jadi, bodoh politik berupa kritik yang menyerang politikus itu percuma, pergerakan dalam bendera – bendera partai juga percuma dan terlebih celoteh dalam bingkai gagal move on . . . tapi, akh . . . sudahlah . . . harga mie instant masih terjangkau!!!

In politics, stupidity is not a handicap” (Napoleon Bonaparte)

Nomensen & Perang Toba

Onafhankelijke Bataklanden (Tanah Batak yang Merdeka), saya pernah mendengarnya berkali – kali dulu. Saya dulu berpikir itu hanya lelucon yang dilebih – lebihkan, tapi setelah membaca tulisan Dr. Uli Kozok (Utusan Damai di Kemelut Perang – Peran Zending dalam Perang Toba – Berdasarkan Laporan I.L. Nomensen dan Penginjil RMG Lainya) yang agak “kontroversial” karena menunjukkan aktivitas zending adalah langkah awal masuknya kolonialisasi dari eropa di atas Tanah Batak Yang Merdeka.

Ludwig Ingwer Nomensen, “Rasul” Kristen di Tanah Batak, Seorang Jerman yang ditugaskan untuk melakukan misi kristenisasi di Tanah Batak. Nomensen adalah salah satu dari 15 misionaris kristen di Tanah Batak. Para Misionaris ini dalam laporan bulanan kepada kantor pusat mereka di Jerman menyampaikan tentang “bantuan” mereka kepada Belanda dalam menumpas perjuangan S.M.Raja XII. Laporan bulanan para zendeling inilah yang digunakan oleh Dr. Uli Kozok dalam melihat peran zending dalam penaklukan Toba.

Saya sendiri tidak atau belum membaca penulisan penginjilan dari versi Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) zaman kemerdekaan yang disebut oleh Dr. Uli Kozok sebagai penerus Zending Reinische Missions-Gesellschaft (RMG) Di Jerman.

Zending RMG Jerman (Nomensen, dkk) dan Militer Belanda membentuk Koalisi Injil dan Pedang yang sangat sukses karena mereka memiliki musuh yang sama yakni Sisingamangaraja XII. Tujuan mereka adalah agar orang Batak “terbuka pada pengaruh eropa dan tunduk pada kekuasaan eropa”. Zendeling (termasuk Nomensen) banyak mempengaruhi banyak raja agar berhenti melakukan perlawanan dan menyerah pada kekuasaan Belanda, dan yang tidak mau menyerah didenda dan kampungnya di bakar. Atas jasa para Zendeling ini, Pemerintah Belanda memberikan surat penghargaan resmi yang berbunyi sebagai berikut :

“Pemerintah mengucapkan terimakasih kepada penginjil RMG di Barmen, terutama Bapak I. Nomensen dan Bapak A. Simonet yang bertempat tinggal di Silindung, atas jasa yang telah diberikan selama ekspedisi melawan Toba dan memperoleh 1000 Gulden yang dapat diambil setiap saat.”

Ujung dari Koalisi Injil dan Pedang menamatkan riwayat S.M.Raja XII pada Tahun 1907. Tulisan ini sekaligus kritik pada Buku : “Ahu Si Singamangaraja” tulisan Dr. W.B. Sidjabat pada Tahun 1982 yang berusaha “mendamaikan” aktivitas penginjilan Sang Rasul Nomensen dan aktivitas perjuangan Sang Pahlawan Batak.
Batak di masa ini sebelumnya sudah phobia orang asing karena pembantaian oleh Paderi di bawah pimpinan Imam Bonjol dan kemudian harus saling bunuh lagi ketika masuknya Zending.

“Setiap Zaman punya Anaknya dengan Kelebihan dan Kekurangannya!”

Philosophic Romance

Abad 18, Filsafat idealisme dengan tokohnya adalah F. W. Schelling yang dipengaruhi secara signifikan oleh seorang Goethe. Mereka pencari hakikat di zamannya.

Ada suatu waktu suatu filosofi tentang romantisme. Tidak ada seorangpun yang mendefenisikan secara pasti apa itu “Romance” atau apa itu “Romantic”. Tidak para pelaku sejarah atau sejarawan dan ilmuwan natural. Mendefenisikannya bagi mereka akan membuat nya kehilangan jati dirinya. “Romance/tic” selalu dipahami berbeda di tiap masa dan waktu.

Romance the concept of life, diperkenalkan pada abad tersebut dan para oposisi semisal Darwinis ataupun para pemikir pencerahan dan sebagainya menyebut Teori Tentang Bumi yang dikemukakan oleh Fiderich W adalah sebuah romantisme yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Teori romantis melihat bumi bukan hanya sebagai pengejawantahan ilmu geologi tetapi juga romansa biologis yang juga diwakili oleh mahluk hidup. Teori yang menjadi dasar bagi Darwin, Newton dan yang lainnya dalam mengembangkan cara berpikir kemudian.

Filosofi yang romantis dalam idealisme yang terpecah-pecah dalam karya sastra yang oleh Goethe diselamatkan dan diperjuangkan secara komprehensif, dan tidak lepas dari campur tangan para pemikir natural – philosopher (yang menggagas tentang elektromagnetik). Ketika para Natural – philosopher mengembangkan dan mengambil porsi di pemikiran Romance Theory, saat itulah teori ini berkembang dan menjadi dasar bagi perkembangan para pemikir selanjutnya.
Romance The Concept of Life merupakan perjalanan panjang dari kisah perjuangan Goethe dan Schillenger dalam menapaki dan mengkomprehensifkan sebuah teori idealisme yang memaknai bumi. Mungkin semacam penemuan di tengan pencarian hakikat.

Sebagai pemula dalam menikmati essay ringkas tulisan F.W. Schelling, saya tidak dapat memaknai secara terperinci muatan Theory of the Earth – Romance, The Concept of Life – yang dikemukakan, tapi jika melihat pertentangan sebuah ide – ide yang kadang absurd dan bahkan tidak nyata, dapat saya pastikan bahwa teori ini akan sangat bertentangan dengan teori atau pemikiran pencerahan, intelektual, dan materialisme dimana “Romance” ini akan kelihatan sangat lemah dari sisi pembuktian secara rasional, tidak intelektual dan tidak dapat bereaksi cepat atas reaksi.

Tapi, apapun sejarah yang tercatat mungkin sedikit banyak dapat saya petik hikmah dari perjuangan Goethe dan para pemikir idealisme “Romance/tic” yakni Sebuah perjalanan “Romance of Life dan Scientic”.

Goethe yang dari wanita yang kedua yang dicintainya dan dinikahinya tidak pernah berhasil melewati kehidupan bersama seorang anak dari masa kecilnya. Anak – anaknya selalu meninggal dalam masa balita.
Hingga suatu waktu pada anak yang kelima, bernama Oscar juga mengalami nasib yang sama. Schelling kemudian mengirimkan surat kepada Goethe dan
Goethe membalas demikian . . .

“Saya sudah menerima surat yang kamu kirimkan, terimakasih atas simpatimu dan saya sudah memprediksikan dan mengetahui hal itu sebelumnya. Dalam Kondisi seperti ini, bagi seseorang apakah lebih baik untuk membiarkan rasa sakit itu mengikuti keharusan sesuai kehendak alam atau mencari ‘sumber – sumber duniawi’ yang berkaitan dengan hal itu yang disediakan oleh masyarakat/kultur. Harus memilih satu, Yang terakhir adalah pilihanku. Seperti yang selalu saya lakukan. Seseorang hanya mencari dan menemukan kenyamanan sementara dan alam akan kembali dengan hak yang dimilikinya untuk membuat krisis yang lain, dan saat itu Seseorang akan membuat pilihannya lagi”.

Saya sedang mencobai memaknai sebuah prinsip dan cara berpikir Goethe di surat balasannya ini, Cara berpikir seorang pejuang idealisme – Romance, The Concept of Life.
Salam,

Romantisme itu bisa jadi padu padan logika etika dan estetika.

—————————
“Philosophic Romance it may just Somehow, Someday, dan Somewhere we follow the natural decision”

Vini-Vidi-V*ckyou – isme

Vini . . .
Perkenalkan nama saya Heru Cokro Sang Fajar, sejatinya saya adalah legenda yang ditunggu-tunggu oleh Bangsa yang katanya pejuang; tapi mentalnya bagai budak penjilat pantat ; hipokrit kelas wahid dan penyuka segala berbau mistis dan wangsit. – vini . . .

Vidi . . .
Saya datang dari dunia angan dan terkurung di dunia angan-angan para lelaki desa yang dan petani tak bertanah yang akan memakan makanan sisa para juragan kaya dan juragan parlente yang gemar berlonte bagai binatang penikmat senggama dan mengatakan bahwa pemimpi dari desa adalah kolot dan tak berotak dan bagai idiot ; keramahtololannya akan selalu menghiasi muka polosnya walaupun saudari dan wanitanya telah melacur dan membabu kepada si juragan kunyuk ;

Dan para wanita desa tak berpendidikan terpenjara doktrin usang para tetua bijaksini yang bau tanah ; yang akan mengangkang dengan sedikit ancaman kekerasan dan ataupun segepok uang yang digunakan untuk membersihkan lender birahi yang muncrat di wajah mulus hasil pemanasan matahari desa dan cuaca dingin pedesaan.

Dan para pejantan ; mereka minikmati hidup dalam ketololan dan keterbelakangan dan mengatakan bahwa Ratu adil akan datang entah dari mana kelak ; mungkin suatu waktu dari tempat lain dari muncratan lendir para penjahat kelamin atau dari keluarga ningrat yang memaknai kebaikan adalah memberi ‘recehan’ untuk para pengemis dan membiarkan mental sampah dan mengemis bak budak tetap melekat di hati dan kepala ; yang bongkahan otaknya jarang dipakai kecuali untuk memikirkan paha ngangkang mulus dan melakukan aksi ‘brutal’ dan kekerasan ketika seseorang menyengol badannya ketika berjalan di bawah langit yang sama.

Saya adalah Heru Cokro, yang hidup sedikit di belakang garis ‘start’ yang tidak bergerak karena tidak ada bunyi dentuman pistol yang harus memaksa saya bergerak.
Saya adalah legenda yang ditunggu para gelandangan dan sampah masyarakat yang telah menyerah pada kesenjangan dan menyerah pada cambuk waktu dan silaunya baju sutera dan celana dalam sutera.

Para pemimpi akan aku, teriak “anjing!”; sungguh mereka tidak tahu si anjing adalah anjing kahyangan yang akan muntah2 karena kotoran bumi pertiwi yang mengatakan kebebasan adalah gaya hidupnya – ternyata hanya mahluk yang bertingkah bak esok hari telah usai; tidak ada hari esok dan tidak ada mentari besok pagi yang ada hanyalah mimpi pelacur semoga ada ‘kebaikan hati’ para juragan kaya dan si pintar yang egois ataupun dari pejabat yang lewat dengan iringan2 sirene ‘ambulans’ yang saya harap kelak menjadi sirene ‘ambulans’ kematian yang mengangkut jasad busuk para pejabat penindas negeri ini.

Saya adalah Heru Cokro, pahlawan kesiangan para buruh, proletar kasar dungu tukang rusuh dan pemaki yang menangis terinjak dan terpasung karena hasil kerja tidak dihargai sepantasnya, tetapi tidak melawan ketika sekarung beras dan bajingan dengan ‘stelan parlente’ menghampiri sambil memegang pundak dan berkata “saya ada di pihakmu”. Para proletar tak berpendidikan yang hidup dengan kekuatan dengkul yang akan membunuh karena uang ratus ribuan. Proletar yang menerima semua hal sebagai takdir dan nasib yang tidak bisa di lawan; yang hanya berpikir bahwa ‘cukup kenyang perut senanglah sudah’. Kacaunya mereka mengajarkan sifat2 itu tanpa sadar kepada anak-anak mereka; diajarkan menjadi budak – sampah – idiot – terima nasib – kotoran – dan mencekcoki dengan ketakutan dan pembunuhan mimpi.

Proletar malang yang ramah, betapa surga akan tersenyum oleh aksimu yang sedemikian mulia. Kau gantungkan hidup di tangan orang yang bahkan tidak akan mengenal namamu bahkan ketika ‘laba perusahaan’ dapat kau genjot berkali-kali yang membuat dia bisa memesan perawan-perawan desa dari jauh di sana dan bercinta berkali-kali dengan wanita-wanita cantik belia import dan eksport.

Si idiot yang tercuci otak karena perut sedang lapar – si idiot tercuci otak karena pembodohan tetap dilakukan – si idiot menangis karena janji – janji tak kunjung datang dan perut tetap lapar ketika malam datang – itu hanya awang-awang yang digantungkan jauh seperti memimpikan Ratu adil datang dengan bikini pink membagikan roti tawar dan menyusui anak-anak kecil di bawah jembatan.

Buruh tani; kaum miskin masyarakat kota yang di-sensus para pejabat berada di ‘garis’ kahatulistiwa kemiskinan, terpecah-pecah dalam banyak organisasi – partai – kelompok – kumpulan – kawanan – gerombolan – trio – duet – bahkan melakaukan aksi single fighter khas liberal – kapitalis pengekploitasi minoritas untuk kantong mayoritas yang dikawal oleh Negara hukum kampret berkeadilan mayoritas.

Statistik rata-rata menyatakan 79 + 1 persen penghuni dari bangsa ini adalah kaum yang dengan amukannya dan ludahnya dan darahnya pasti dapat melumpuhkan kekuatan manapun ketika bersatu. Sahabat seorang nabi pun akan berpikir dua kali untuk melawan persatuan para proletar yagn tersisih oleh zaman, tapi kebodohan dan mental budak dan hal yang diajarkan logis oleh orang-orang dengan isme berbeda semacam liberal – religius – kapitalis – dan lain sebagainya yang mengekang kemampuan berpikir yang membuat ‘mahluk yang kebetulan pintar’ dari kaum tersisih akan kembali bertarung dengan hati dan otaknya – terharap dia tidak menjadi gila – tapi dipastikan dia akan menyebrang dari ‘keyakinan’ suci pembebasan kaumnya menjadi individu serakah yang akan hanya dan hanya memikirkan material dan nama baik – perutnya – dirinya – istrinya – anaknya – kantongnya – rumahnya – istri keduanya – muncratan spermanya – dan hal lainnya yang akan terterima dengan perjalanan waktu dan kebenaran mayoritas dan prinsip mayoritas dan pemikiran – pemikiran dan praktek yang sedang nyata berjalan. – vidi . . .

V*ck You! . . .
Saia Heru Cokro; satria piningit yang men-zigot dari kebobrokan mayoritas tapi mati dalam kandungan. Saia menangis darah melalui selangkangan bunda pertiwi yang mengandung dalam rentangan ribuan tahun lamanya yang tereinkarnasi dalam zaman-zaman tapi selalu teraborsi oleh kebodohan – pembodohan – terbodohkan – dan dibodohkan.

Saia tersenyum ketika luapan – luapan kegembiraan harapan bersatu dahulu kala; dan kembali menahan teriakan sakit ketika menjadi kotoran proses aborsi tiap akan terlahirkan.

Para pemimpi akan aku; mengungkapkan cinta dengan tulus dan bersenggama jauh melebihi tehnik kama sutra – mereka mengucapkan doa sebelum melakukannya – tapi saya selalu gagal ketika mendekati bulan kelahiran . . . v*ck you! . . .

Hei . . . !!!
Para pemimpi akan perubahan – penakut yang bersembunyi di bawah kolong ranjang tempat bercinta para majikanmu – pencemburu yang memaki dalam tidurmu – penganut ajaran usang keajaiban – pemburu tuhan yagn tidak mengenal ajarannya – pembunuh mimpi yang mengangguk pada kuasa dan harta – pekerja berotot tak berotak – penikmat wanita yang cukup dengan melihatnya – orang yang lebih memilih hidup dalam kubangan kotoran dan wajah budak daripada mati karna menantang . . .

Para orang yang kebetulan pandai yang memecah para si bodoh dalam organisasi – partai – kumpulan – gerombolan – kawanan – trio – duet – dan egoisme tunggal . . .

Para pemimpin pengkianat kesejahteraan social yang berkata kebaikan perut dan kantongmu adalah kebaikan seluruh umat . . .

Para orang suci yang berkata dunia hanyalah persinggahan yang tidak patut di urus – yang menjanjikan surga atas upah perbuatan – yang berkata neraka adalah tempat yang buruk dan dikhususkan buat orang yang menelantarkan ajaran tuhan-mu . . .

Tuhan tuhan yang berdiam dari atas sana mempermainkan mereka bagai bidak-bidak catur dan wayang yang akan saling membunuh untuk hal-hal yang tidak mereka tahu dan sadari . . .

Kukatakan kepadamu . . .
Bahkan ketika saya masih melingkar mencium kemaluan dalam kandungan ibu pertiwi, entah akan terlahir atau mati kembali ke kolong bumi, entah akan sempat mencium busuknya luka bertahun silam . . .

“v*ck you! . . .”

——————————-
“Isme ini katanya terlalu tua untuk hadir di saat dunia berubah dengan gerakan yang mayoritas dan kebenaran – kebenaran mayoritas – bahkan ketika Isme ini sebenarnya belum lahir.”

Menawar Pancasila di NKRI

Setengah abad lebih kemerdekaan NKRI, dalam pikiran saya selalu muncul beberapa pertanyaan misalnya;

Apa yang salah dengan NKRI dengan Pancasila-nya?”

“Siapa yang salah ? Bagaimana bisa menjadi salah?”

“Kenapa bisa salah ?”

“Untuk apa diposisikan salah?”

Dan seperti apa usaha untuk mencari jawaban –yang mengambang– dari Pemerintah tercinta.

Bhineka Tunggal Ika adalah wajah NKRI, dimana suara berkumandang akan bergema dalam berbagai ragam bunyi tetapi tetap satu makna. Sabang sampai Merauke. Wawasan Nusantara. Kesatuan kepulauan yang disatukan perairan.

Proklamasi adalah momentum kesakralan kebangsaan Indonesia. Sumpah Pemuda adalah panji pemersatu. UUD ’45 adalah landasan konstitusi. Pancasila adalah ruh  negara, bangsa, rakyat dan pemerintah. Indonesia Raya tanah tumpah darahku. Indonesia bersatu. Bangunlah jiwanya. Bangunlah raganya untuk Indonesia satu.

Di kutipan penggalan – penggalan lagu kebangsaan itulah hakekat NKRI bersemayam. Yang harus dikumandangkan dalam setiap hati para WNI. Penggalan yang menyiratkan sejarah dan konsistensi Indonesia.

Pancasila, akulah pendukungmu. Patriot proklamasi, sedia berkorban untukmu. Pancasila, dasar negara. Rakyat adil makmur sentosa. Itu pribadi bangsaku

Dan maju! ! !

Tidak ada kata yang bisa menceritakan hakekat lagu-lagu perjuangan pemersatu dan pembeda. Cukup dengan menyanyikan dalam hati dan sendu merenungkan kembali.

Karena walau NKRI adalah harga mati tetapi Pancasila tentu bisa untuk ditawar. Jika ingin menawari Pancasila dari harga NKRI dan juga kesaktian Pancasila, maka bubarkan dulu NKRI.

—————————————————-
Hidup selalu tentang Pilihan
By : Pahompu ni Radja Naogos

Mencari Lembar Hilang

Mari bercerita tentang sesuatu yang sangat ingin kamu tahu, saya tahu, mereka tahu atau segala mahluk ingin tahu. Bukan melihat dari lembar-lembar terlihat di depan mata. Bukan tentang sesuatu yang terdeteksi oleh mata, bukan juga tentang ilusi dan bukan tentang permukaan. Mari bicara tentang lembar kosong yang ditulis dengan tinta ajaib atau lembar hilang yang dibakar dalam kerahasiaan, berbicara tentang lembar hilang yang memaksa kita berpikir kenapa? ; untuk apa? ; oleh siapa? ; bagaimana?; dan ragam pertanyaan lainnya.

Mari bercerita tentang ketabuan yang membatasi rasa ingin tahu. Mari bercerita tentang penasaran. Mari bertanya tentang Lembar Hilang dari sebuah peristiwa, lembar hilang dari sebuah kewajaran atau bahkan tentang yang hilang dari sebuah ketiadaan. Jangan cukupkan diri dengan refleksi di permukaan air. Marilah lihat lebih jauh sampai dasar air, tembus ke dasar laut, sampai menembus bumi di ujung seberang.

Mari bercerita “Lembar Hilang” yang terpendam dalam pikiran-pikiran mereka, dia, aku atau sesiapapun. Jika tidak dapat seorang dari kita ketemukan biarlah tetap menjadi lembar hilang selamanya dan tidak untuk diketahui oleh siapapun pada masa kita. Entahlah kalau masa setelah kita.

Mari . . .