“Lupa”

Gabe pelupa tadda si jolma na simalo takkas, inna akka panaliti “siboto surat”.

Hurasa, adongdo piga halak hita dope namarjut ni roha (manang cemburu) molo adong dongan natorang parningotanna. Boi diingot sude. Lak boape maol isukhun gurui sahera pangaltup ni saksang babi nama ibaen mangalusi. Ala ni denggan ni parningotanna do nirasa. Ai ummalo do ibana sian hita tahilala alani.

Parbinotoan naimbaru mandapoti naiginjang i: Sala! Dang tikkos be!

Parjolo sahali, ndang aong alit ni parningotan dohot hamaloon (kecerdasan).

Paduaon, utok – utok i (tupa) karejona lao mangingot dohot lao mangalupahon do.

Impolana: mangalupahon on hera jambar manang bagian ni “ha-malo-on” do hape.

Sarupa do arga ni parningotan dohot par-lupa-on

Inna si Paul Frankland, “Bapa i” di CIFAR’s Child & Brain Development Program, dohot si Blake Richards, kedan-na di the Learning in Machine & Brains Program, utok – utok ni jolma aktif do karejo lao mangalupahon. Ibaen do pandapot ni halakon di koran barita margoar Neuron di Universitas Toronto.

Inna halakon –ai menuruthu pe tohodo– molo lapatan ni parningotan ndang na manimpan akka informasi / barita na tikko tiap waktu, alai lao sarupa palito jala manambai bisuk lao mamboan keputusan na toho jala denggan marhite akka na porlu.

“Porlu do utok – utok malupahon akha naso porlu jala ndang marlapatan ala tumahon fokus tu akka na mangurupi lao mamboan keputusan na denggan jala toho i ngolu siap ari jala mamilang – milang akka na ro di ari na ro.”

Jei, saonari nga agak torang be saotik huhilala molo adong naujui hea hubege piga – piga surat manang pandapot ni jolma na mandok, akka jolma palupa i akka namalo. 😀

Butima.

 

Advertisements

Kesatria Roegoen

Saya mengenalnya. Seorang manusia yang usianya sudah melewati setengah abad hidup. Seorang pekerja keras yang bersamaan bersanding dengan lembutnya hati seorang manusia. Masa mudanya dibentuk karakter para pekerja keras dan sebuah sifat illahi ringan tangan membantu. Senyum dan tawa yang mungkin mulai tidak rutin karena banyaknya masalah yang tiba- tiba menumpuk. Proses bertumbuh dan dewasa dan bijak dalam tua. Bibit hati yang dipupuk oleh lembut hati kelemahlembutan tidak akan tumbuh menjadi karang yang tidak peka pada kesusahan orang lain.

Fakta yang tidak terbantah kemudian bahwa, kecerdasan itu memang semata-mata anugerah. Membaca fakta dan kondisi serta menemukan sebuah tautan maksud dan tautan cara dalam memenuhi maksud sangatlah patut dihormati. Hal semacam itu bisa diperoleh dalam pendidikan formal dan pengalaman terus – menerus tetapi jika semua itu ada sejak lahir, seketika saat menghadapi sebuah masalah, itu adalah sebuah berkah dari Sang Empunya Kecerdasan.

Sebuah sengkarut keserakahan yang berujung problematika hukum yang harus dihadapi telah mendorong pikiran untuk diperas untuk mengekalkannya dalam coretan ini. Coretan himne yang mungkin compang – camping di banyak komposisi frasa dan ide.

Fakta yang akan selalu para ahli filsafat dan profesor serta dokter ahli sesali bahwa hukum dimana kita berserah yang ada disekitar kita, ditegakkan oleh orang – orang yang serakah. Orang – orang yang hilang rasa malu memberi makan keluarganya dengan “haram” – nya uang yang mereka pakai. Haram karena ada luka dan tangis atas kenyang perut yang mereka dapat. Orang – orang yang kita doakan atau kutukkan agar dihukum seketika oleh Tuhan karena mudah – meriahnya mereka permainkan adil dalam rerata timbangan uang suap.

Tercenganglah logika melihat sosoknya yang tidak mengeyam sebuah sekolah formil untuk memupuk kemampuan berpikir dan menautkan sebuah sikap psikologis dan membaca situasi kondisi. Tercenganglah mendengar sebuah narasi bijak dan wejangan sebuah konflik. Singkat padat dan tepat sasar. Tercenganglah terhadap kemampuan kalkulasi melihat sebuah runtutan kejadian kemudian. Keberanian dan kejujuran sepertinya mengalir dalam harmoni untuk mengokohkan setiap kalimat yang terujar. Ada cerewet seorang wanita dan lantang kejujuran sekaligus seorang kesatria.

Sebuah “nepotisme” penciptaan.

Tidakkah keberanian itu sangat mahal? Dan menjadikannya sebagai talenta untuk mengusung kebenaran adalah sebuah sifat kesatria Tuhan. Melampaui kemampuan akal ketika, dipertentangkan dalam pragmatisme dan idealisme. Dia mungkin tidak mengenal kecanggihan istilah itu (pragmatisme dan idealisme) tapi dia kadang sedang menunjukkan sebuah pragmatisme kemanfaatan, saat dia menyisihkan uang hasil keringat untuk mendorong keberanian (“menyogok”) majelis hakim untuk memutuskan sebuah perkara pidana yang sedikit ringan bagi anaknya yang dituduh melakukan kejahatan pengancaman yang direka oleh para aparatur polisi yang terhormat sekaligus biadab dengan nominal uang jalan sebesar 500 ribu rupiah.

Polisi itu jangan diajak ribut ; kasih duit beres!

Hakim memutus bahwa adalah kejahatan-lah membela rumah dan harga diri. Jengkel dan marah melihat hakim kita yang malas mencari kebenaran materiil, buta bagai patung janda gelap mata dengan timbangan tidak imbang. Hanya paham kebenaran dalam radius pintas 1 meter jarak pandangnya dari meja hijau singgasananya. Kebenarannya haruslah sesuai tumpukan bantalan rupiah yang mengempukkan kursinya. Kebenaran yang empuk.

Ingat! Ada uang bereees!!!

Roegoen yang kemudian pragmatis sejak dua hari sebelum putusan dibacakan dan diketok oleh palu hakim yang mulia sekaligus tiada adab pun murahan. Harga diri manusia itu tidak untuk ditukar dengan apapun. Harga diri manusia haruslah dipertahankan dengan segala cara. Walaupun dengan cara membayar harga diri hakim yang tidak menjaga harga dirinya dalam ruang sidang brutal tanpa sepoi – sepoinya angin dari kipas angin. Lima juta rupiah harga 3 orang hakim beserta paniteranya untuk sebuah putusan pidana penjara 4 bulan, walau dia tahu, seharipun sungguhlah tidak layak anaknya mendekam disana. Tuhan menjadi pahlawan bertopeng di saat semua tiang – tiang berpegang runtuh dan kenalan dan sanak saudara menjauh. Tidakkah Tuhan mungkin muncul dalam topeng uang sogokan? Tidaklah sudi berkeluh – lelah kembali berjibaku dengan birokrasi hukum busuk demi harga diri yang tercoreng sang anak yang tak seorangpun penegak hukum perduli.

“Tok . . . tok . . . tok!”bunyi ketukan palu keadilan setelah putusan dibacakan.

“Diputus bersalah dengan putusan penjara empat bulan . . . bla . . . bla . . . bla”

Pelukan hangat menyambut keluarnya sang anak dari penjara di depan pintu lembaga memasyaratkan yang fenomenal. Meredakan amarah dan luka yang haruslah dimaafkan dari dalam demi sebuah kedewasaaan yang tidak semua orang miliki untuk maju dan menggeliat lebih bebas, dan merdeka.

Roegoen kemudian pernah memarahi kepala lingkungan rukun tetangga yang diduga memanipulasi dan menggelapkan uang warga. Dua ratus ribu rupiah di tingkat rukun warga bisa jadi serupa dua triliun di tingkat rukun negara. Tetapi, ini bukan tentang nilai uang, tetapi sebuah prinsip seorang kesatria.

Satu rupiah – pun!!! Jika satu rupiah itu adalah hak seseorang ; berikanlah dan jangan digelapkan!” ucapnya dan terngiang selalu dalam setiap godaan keserakahan yang datang.

Roegoen, tetaplah tersenyum dan jangan lupa bahagia. Sanjungan Kesatria layak dan patut disandangkan bagimu dalam peliknya hidup dan keadilan.

 

 

’Sua – Semua Baik Saja!

“Kita tidak tahu apa yang akan terjadi ; sebelum kita mencobanya”

Saya tidak tahu bagaimana memulainya ketika saya tahu bahwa kamu telah menjadi seseorang yang dapat mengerti tentang empati dan simpati dalam hidup yang sederhana ini. Empati yang kau peragakan telah menyentak hati – dan simpati yang kau tunjukkan telah memaksaku memastikan kembali bahwa hatiku tidak bermasalah dengan kepekaanSaya senang mendengar ketika kamu bisa menceritakan yang mengganjal di hatimu, ketika kamu bisa merasakan hal yang tak bisa kuhadirkan dalam hati.

Hati yang membatu ini telah terketuk titik air matamu yang terjatuh malam itu

Kamu menyampaikannya dengan indah dengan sedikit alunan tangismu. Air mata yang keluar dari matamu tidak akan mengubah pendirianku tentangmu. Saya senang mendengar kejujuranmu tentang kehidupan yang kau lewati. Begitu amat sangat berharga.

Dan, seingatku itu saat pertama kali kamu mengungkapkan yang terendap dalam hatimu. Saya sangat menghargainya. Hal itu memaksaku bergerak lebih terarah dan lebih baik. Ini bukan tentang orang lain dan hal lain tapi ini tentang mimpimu. Terimakasih telah mempercayaiku dibalik embel – embel persaudaraan itu. Saya tidak akan mengakhiri apa yang dapat kau selesaikan dengan indah. Atau menyelesaikan hal yang dapat kau akhiri dengan tepat.

Saya hanya bisa berujar : “In the end it will be great”.

They said : “We live for a reason” : I don’t know the reason I’m here – perhaps it for something that related with your reason to be here”

 

 

Taon Baru Januari ƪ(‾ε‾“)ʃ

Salam bagi semua penunggu dunia dan penikmat kehidupan (para ayah – ibu – saudara perempuan – saudara laki2 – teman – pejabat – guru – orang miskin – orang kaya – ateis – religious – dan semuanya yang masih memijakkan kaki di atas bumi yang sama dan menengadah ke atas langit yang sama). Selamat mengawali hari baru di tahun yang baru ; mengawali hidup di hari yang baru dengan beragam target dan resolusi dan apapun namanya. Lembaran baru (mungkin) tentang mempertahankan apa yang kamu ingin pertahankan dan merelakan apa yang kamu ingin lepaskan dengan niatan atau bahkan sudah terlepas. Capai mimpi – mimpi yang masih tertunda dan bangun dari mimpi – mimpi yang kau bangun di atas mimpimu, atau merebut kembali yang sudah terlepas.

Salam untuk para penikmat hidup yang mengajarkan banyak cara untuk bersyukur ; salam bagi para pengutuk hidup yang membuat saya harus lebih bersyukur dan salam bagi orang – orang yang menikmati hidup tanpa mempertentangkan perbedaan – perbedaan yang memancing kearah perpecahan dan konflik.

Salam bagi orang – orang yang mendoakan kebaikan untuk kedamaian sekitarnya ; Salam bagi pemikir – pemikir yang mengajarkan kebaikan dan keadilan yang tak tertangkis oleh moral dan nurani ; dan juga salam bagi orang – orang yang tetap berusaha menyerukan kebenaran di tengah derasnya hambatan – gangguan – rintangan dan ancaman (Entah dari dalam diri dan luar diri).

Salam untuk orang – orang yang dapat mengajarkan cinta ; kejujuran ; kehormatan ; ketulusan dan keberanian dan menjadi diri yang sejati.

Salam untuk orang – orang yang memberikan arti dalam setiap perkataan dan perbuatan memberi arti bahkan ketika tidak mengeluarkan suara sedikitpun atau bahkan beraksi segerakpun.

Kalimat terakhir yang bisa saya tuliskan dalam salam disini mungkin adalah : “Hormati orang tuamu – Cintai wanitamu – Jadilah dirimu sendiri dan Setia pada Tuhanmu

Salam,

(╥﹏╥)

Dari Au

“Suatu saat nanti, kita akan sampai di suatu tempat yang akan memisahkan kita – mungkin kamu tidak akan mengenal aku karena kita akan terpisah dan tetap tidak akan mengenal aku meskipun kita bersama – Itu semua atas apa yang kita lakukan hari ini”

 

 

Menjadi Setia

Sungguh, banyak hal yang tidak bisa kita duga dengan melihat dari permukaan saja. Berkali-kali saya dengar ungkapan ;”Jangan menilai orang dari luarnya!”.

Dibalik sebuah senyum ; mungkin tersimpan derita dan masalah yang memilukan.
Dibalik wajah garang ; mungkin tersimpan kelembutan luar biasa.
Dibalik kejahatan ; mungkin ada niat baik.
Dibalik pakaian kotor itu ; mungkin bersemayam jiwa seorang ‘satria’.

DAN SEBALIKNYA ! ! !

Saya akan bercerita tentang seorang “Jhon” yang hebat, yang melebihi jiwa seorang satria, di dalam dirinya saya kini mengerti kenapa ada teori ‘bahwa cinta itu bukan masalah harta;fisik;dan hal lainnya’. Dia menterjemahkannya dengan ‘tindakan’ yang lebih akan mudah dipahami oleh orang yang merasa mengerti cinta tapi, berdalih ketika masalah datang.

Brother ‘Jhon’ yang hebat adalah cerita dari negeri bertuhan. Dia murah senyum, lucu, bersahabat dan bersahaja dan rendah hati. Tapi, siapa sangka dibalik senyum itu; ada ‘COBAAN’ berat yang membayangi.

Dia sudah menikah dengan ‘kekasih’ pujaan hatinya selama kurang lebih 11-tahunan yang lalu. Tapi, yang diharapkan oleh pasangan suami istri di seluruh pelosok dunia ini tidak kunjung ‘singgah’ dipangkuannya. ANAK; yang dia dambakan dan istrinya dambakan tidak kunjung bersinggah di hangatnya peluk.
TERNYATA; Sang kekasih pujaan hati tidak sedang dalam ‘rencana’ menjadi seorang “IBU” dalam suratan takdir. Dan akan menjadi pararel Sang “JHON” juga tidak akan menjadi “AYAH”. Sang istri dinyatakan menderita tumor rahim, yang menjawab ‘kelogikaan’ kenapa mereka belum mempunyai ‘momongan’.

Sebelas tahun bertahan dalam ‘kerinduan’.
Sebelas tahun bersabar dalam ‘goresan takdir’.

Menjadi Setia dengan Sang Kekasih Pujaan Hati yang belasan tahun lalu diucapkan cinta melalui ungkapan-ungkapan cinta dan dalam bunga-bunga gejolak indah remaja. Dan yang berbeda saat ini, Sang “Jhon” mengungkapkannya dengan “TINDAKAN”. Saya tidak tau bagaimana menggambarkan kehebatannya bertahan dalam keadaan ‘seperti itu’.
Di tengah arus “POLIGAMI”, ternyata Cinta itu bukan masalah nafsu dan takut dosa seperti kata-kata mereka dengan bangga yang berpoligami. (Ini kata2 buat para POLIGAMER-pelaku poligami).

Menjadi setia itu butuh pengorbanan, dan butuh ujian berat ; ketika ujian itu datang, maka saat itulah ‘kesetiaan’ itu diuji. (Tuhan berkatilah orang ini ^_^)

Cerita ini adalah kisah nyata. ADA dan akan ABADI.

————————————————————-
Tuan “Jhon” yang hebat,
Tiada kata yang bisa kuungkapkan!
Hanya Doa dari seorang pendosa
Tuhan memberkatimu . . .
Beserta pendampingmu . . .
(dan calon anakmu) . . .
Kini dan Sepanjang Hidupmu,
Selamanya . . .
—-
By; Pahompu ni Radja Napogos

Kejujuran Diuangkan

Ketika saya mendengar cerita tentang kehebatan para penakluk-penakluk hukum alam, hukum rasionalitas, dan hukum yang menjejaki tingkat kecerdasan intelektualitas, saya sangat terkagum-kagum. Tapi, hari ini saya mendengar cerita pelaku perlawanan pada hukum kebiasaan yang mengkangkangi nurani. Sepintar dan secerdas apapun kemampuan otak intelektual, ternyata pusaran arus setan tidak selalu menarik orang berselancar di dalamnya. Banyak alasan kenapa arus setan atau lingkaran setan ini begitu kokohnya bertahan dalam zaman-zaman kehidupan. Karena kecerdasan emosional yang sangat mudah terombang-ambing dalam bingkai keduniawian. Semisalnya adalah ketika tidak ingin terlempar dari garis-garis kekuasaan, ketakutan yang mengambang dalam banyak kemungkinan, dan bahkan karena bersinergi secara sadar atau mungkin tidak sadar.

Tapi, si tua bangka mengajari dengan lantangnya bahwa, menjadi orang yang memiliki kejujuran dalam kerasnya pusaran lingkaran setan itu bukanlah sesuatu yang mustahil. Si tua itu mengatakan lebih memilih menjadi seorang profesional dengan integrity daripada seorang yang berhasil dalam bingkai lingkaran setan. Banyak resistensi dari dalam, banyak perlawanan, banyak teror, tapi nothing to lose.

Si tua itu berkata sambil tertawa terbahak2, entah karena karena dia masih tetap berjalan tegap dengan tubuh reotnya atau karena dia belum terbunuh atau belum menemui niat sempurna untuk menyingkirkannya dari status quo kebiasaan yg mendewakan uang dan saudaranya.

Kali ini, ada mariyuana baru, penyuntik tenaga selain idealisme yang terjajah pragmatisme keduniawian. Awang-awang itu ternyata bukan sesuatu yang mustahil dicapai. Ketika ada pesan-pesan dari nenek moyang tentang tidak menggantung pada harta-harta keduniawian. Dongeng itu ternyata berdasarkan kisah nyata. Si tua bangka itu memilih menjadi pesakitan selama 20 tahun dengan statusnya sebagai penghalang dan memilih menjadi profesional.

Hingga perubahan datang kemungkinan dia bisa tertawa dan berteriak agak lantang tapi belom dengan sangat lantang untuk hari ini.

Integrity is not about the price” (By : Si tua bangka gila yg sempat sakit hati).