Pembalasan adalah Bagian – Nya

Setiap luka yang menyayatmu hari ini
Akan disayatkan pada tiap mereka –atau keturunannya– yang melakukannya
Ada kala yang akan memberi hikmah
Atas setiap waktu yang terbuang percuma
Menghadapi tiap – tiap mereka yang penuh kejahatan di hatinya
 
Setiap titik air mata yang tumpah
Akan ditumpahkan dari mata mereka berkali lipat
Buat mereka –atau keturunannya– yang melakukannya
Ada kala hati yang hancur dapat membujuk Sang Pencipta
 
Setiap sakit hati yang tertahan
Akan dihujamkan pada mereka –atau keturunannya– yang menyakiti hatimu saat ini
Ada kala hati yang hancur akan dapat membujuk Sang Pencipta
Memberi nasehat mewakilimu
 
Setiap senyum yang hilang
Ramah yang hilang dari padamu
Kar’na diperbuat mereka yang jahat busuk hatinya
Akan ada kalanya semua berbalik
Dilipatgandakan senyummu dan bahagiamu
 
Dunia yang jahat ini
Mungkin bisa menyelamatkan mereka yang menyakitimu (untuk sesaat)
Tetapi
Bukankah di sana ada Tuhan
Yang mempunyai segala yang ada?
Mereka yang lepas dari keadilan manusia
Tak akan diluputkan dari keadilan – Nya
 
Sebelum saat pembalasan itu tiba?
 
Tak adakah rindu di hatimu untuk berdamai?
Advertisements

Taon Baru 2018

Ini tahun baru

Dua ribu delapan belas

Tahun yang kata temanku, angin akan sangat kencang bertiup – Pegangan!

Masih soal keajaiban kecil yang didamba para terusir dan terusik

Masih hal keadilan kecil yang didamba mereka yang selalu mengalah

Ini tahun baru – hari yang baru dengan hati baru

Dimana asa kembali membumbung mengapai telapak Pencipta

Hati yang baru untuk membaharui

. . .

Di samping kemudi,

Lelaki tua itu berkata dia sudah tidak mau ribut lagi

Hari pertama di tahun baru ini dia menyeru dalam tawa

Ditemani tawa…

Dan, hujan tiada henti dalam hari – hari pertama di tahun ini

Pelangi melengkung di sore yang cerah itu

Janji – Mu pada si tua!

Aku dan kekasihku saksinya.

Dimana Kita

kemarin, saat gelap

masih kudengar mesra kata cintamu

kemarin, saat cerah

masih kudengar kata setiamu

kemarin, saat mendung

hangatmu masih mendekap jasad

kemarin, saat itu . . . hati kita masih saling mendekap

waktu bergulir . . .

aku, aku, aku ini pekikmu

aku, aku, aku ini latahku

lihat mereka, lihat sana, lihat itu bandingmu

dimana kita-kita dimana

lihat malaikat kecil yang sedang kuajar menyebut “Jesus”

dia memanggilnya “Icuuu…s”

indah bukan? Iya!

dia memanggilmu “mama”

dia memanggilku “bapa”

indah

sekarang, gulali gulita

tiada ya haca cahaya

gelelap gelap di hatiku

memendungkan wajahku

tiada bahagia di sini

dimana kita-kita dimana

awan gelap itu menutupi semua cahaya yang kita punya

sebentar lagi hujan

pasti ada pelangi

indah

 

 

Abu Hati’

Pagi – Siang – Sore – Malam
Berujar hari – hari tentangmu
Sejuk pagi merebak senyummu
Sengat siang menusukkan senyummu
Hangat sore menelisik senyummu
Damai malam menyempurnakan hadir senyummu

Saya terdungu dalam ilusi hari – hari
Ilusi yang mengilusi akan nyaman semu dalam tidur
Nyata yang menyenandungkan pedih
Entah sejak kapan senyummu menjajah
(Atau adakah kamu yang terjajah?)
Senyummu menyerang hati . . .

Kucabut paksa kembali hati dari jasad
Berdebar
Lampaui debaran lelah setelah bercumbu
Kupandangi bentuknya
Detakannya luar biasa dahsyat ketika kusebut namamu
Detakannya meraung sakit tak terkata ketika terniat cabut namamu darinya
Entah sejak kapan namamu terurat di sana

Dulu
Kutinggalkan hati ku di gurun tandus tak bernafas
Karena saya tak butuh dia . . .
Sampai
Di detik ini
Saya harus membunuhnya
Karena dia dengan semborono di detik pertama
Sejak saya meletakkannya kembali di samping patahan tulang rusuk yang cacat
Dia menguratkan namamu di sekeliling dindingnya
Dia menyemennya dengan senyummu sampai bilur terdalam
Arogan . . .
Tanpa ijin . . .
Dipencundanginya . . . Saya
Tuan atas semuanya kecuali sang hati !
Terpaku dipaku oleh ilusi yang menyata
Memburam senyummu dalam nyata
Tidak dalam si hati
Entah mengapa si hati yang terjajah
Tapi . . .
Jasadku yang butuh dipapah

Hari ini
Terakhir pikirku . . .
Kupandangi sekali lagi namamu dalam gurat pahat hati
Ingin kucabik luluhlantakkan
Sampai bilur terdalam
Kalau perlu kubinasakan hati ini jika harus
Namamu harus tercabut dan senyummu harus hilang mengabu
Akan kubakar sisa hati yang masih tersirat senyummu
Kupastikan tidak ada degupan si hati dengan kamu ikut berdetak di dalamnya
Kubumihanguskan jika perlu !!!
Mendahului kiamat zaman !!!
Kupantik api dari batu akik berbentuk hati yang gelap
Kucongkel dari tanah merah di sekitar hutan eden
Kubakar si hati !!!
Mengabu !!!

Kusimpan abunya dalam balutan kemeja putihku . . .

Kuberjalan . . .
Jasad bergerak tanpa hati
Realita mengilusi sisa raga bergerak
Matematis
Logika
Tanpa si hati
Sampai memudar pagi, siang, sore memalam

Kuberanikan diri hampiri kamu di sana
Terakhir pikirku
Di ruang dan waktumu
Dulu dengan hati dan tak kugunakan logika
Hati yang menuntun arogan
Otoriter
Membudak langkah kaki ikuti nya menujumu atau hatimu (Logika ku tak mau tahu !!!)
Dulu . . .

Sekarang . . .
Ku melangkah dengan bungkusan kain putih yang kugengam di tangan kananku
Hati yang kuabukan
Tiada amarah karena amarah itu suara hati (si hati sudah kubakar!!!)
Kecewa hanya sebatas peristiwa . . . (hanya peristiwa tanpa dinilai hati !!!)
Kudekati bayangmu . . .
Kudekati senyummu . . .
Kudekati kamu . . .
Tak kulihat ekspresi wajahmu
Kau tawarkan hati yang lain buat hatiku yang telah mengabu
Mana mungkin dia peduli ??? Sudah mengabu !!!
Konon Jasadku
Lebih tak pedulikan . . .

Ku buka kain pembungkus yang kugengam . . .
Hati yang terbakar !!!
Mengabu !!!
Kutebarkan di hadapanmu !!!
Terbang dia bersama angin !!!
Abu itu bercerita tentang rindunya dan matinya tuannya . . .
Hanya ingin supaya kamu tahu . . .
Hatiku harus tahu siapa tuan atas tempatnya !!!
Saya !!!

Menghilang terbawa angin . . .

Kucampakkan kain pembungkusnya sejajar telapak kakimu
Sisa abunya masih terjebak lipatan kain
Seberkas . . .

Tak kulihat mimikmu . . .

Saya berbalik !!!
Tinggalkan kamu !!!
Dengan rongga menganga di dekat tulang rusuk
Tak akan sembuh hingga akhir zaman !!!

Setitik air jatuh dari celah hatimu
Menyeruak dari kulit halus tubuhmu
Tepat
Di atas sisa abu dalam lipatan . . .
Blesss . . .

Seketika hujan turun
Air mata hatimu merayu matahari mencumbu lautan
Langit tak kuasa menahan orgasmenya
Hujan !!!

Dan tak kulihat keindahan pelangi sore ini !!!

Terdiam ku berjalan tanpa hati !!!
Kamu masih berdiri di sana !!!
Bertegur mesra jasadmu dengan bayang abu hati ku . . .

Dan tidak kulihat mimikmu !!!


Kutinggalkan abu hati yang mendamba hatimu !!!

Guru Yang Baik

Saya tidak mengenalmu sebanyak usia yang saya miliki
Sama sekali tidak
Ratusan tahun ke depan pun jika ada kesempatan untuk mengenalmu
Pun tak akan kumengenalmu dengan logika ku
Menyentuhmu tiada sekali pun
Saya tidak memahami kaitan gerakan hati harus melogika
Sungguh saya tidak memahami setitik pun tentang itu semua
Hanya . . .
Ketika saya harus menuruti logika
Melepasmu . . .
Entah kenapa . . .
Hati melunjak tertusuk . . .
Hendak teriak
Tapi . . . Hanya
Air mata memenuhi pelopak
Panas . . .
Kedipan lirih menjatuhkannya . . .
Saya bukan petarung . . .
Kamu mengajariku untuk mempercayai logika lebih . . .
Kamu benar!!!
Saya tahu
Waktu akan memenangkan logika !!!
Lagipula siapa yang butuh hati ???
Sungguh
Kamu mengajariku dengan sangat baik
Hatiku menipuku
Hati ku adalah Penipu !!!
Dan
Tak ada lagi yang bisa kupercaya
. . .


“Saya memikirkanmu, hanya tak bisa kukatakan saat ini”

Kejar Bahagia

hidup Cuma sekali, dan saya masih terjebak dalam kemunafikan

hidup Cuma sekali, dan saya terjebak dalam ketakutan

hidup Cuma sekali, Cuma – Cuma

Cuma seharga mati

hidup Cuma sekali, serasa per – Cuma

mematamorgana bahagia

tampar aku ! ! !

karena bicara gratis bin mudah ; si bijak pun lahir dari kumpulan munafik