Tak Adong Hepeng Melawan Teroris

Mau menulis soal Ahok yang ajukan peninjauan kembali (PK), kurang materi. Udah gitu berat juga sebenarnya. Cocok jadi materi paper Komisi Yudisial atau lembaga yudikatif. Di palu para majelis meja hijau, semua bisa dinilai dengan uang kadang. Untuk memutus yang adil dan benar, harus kasih uang dulu. Tanya aja Si Poltax, pengacara di Muara.

Jadinya, melipir ke yang agak ringan kelasnya (karena ruang dan waktu) dari upaya PK ke masalah teroris.

Jadi, sebagai informasi saja. Sa’ habis baca media elektronik sebelah, yang boljug  materi dan penyampaiannya.

Di Indonesia ini, ada namanya Yayasan Penyintas Indonesia –sejenis organisasi bukan pemerintah– yang berisi manusia “super” yang selamat dari bom teror oleh mereka yang “tersesat” dengan embel-embel agama. Menarik, para penyintas ini, paska tragedi bom yang membuat mereka cacat fisik, mereka malah menghabiskan hidupnya untuk mencoba buat perubahan dengan menggali empati dalam dirinya dengan ber-rekonsiliasi dengan para eks pelaku teror yang sudah “disadarkan”.

Yayasan ini dan organisasi non-pemerintah lainnya, bertanggung jawab atas upaya rekonsiliasi dan edukasi generasi muda. Yang menurut penulisnya (Erin Cook), tidak ada bantuan dari pemerintah Indonesia. Yayasan ini bekerja dengan apa yang ada, mengedukasi para generasi muda yang sedang labil, antara melihat para teroris sebagai pahlawan dengan panji agama atau memang penjahat semata yang dibodohi karena kurangnya pendidikan, tekanan ekonomi dan lainnya.

Para penyintas ini, sudah susah diterima kerja di masyarakat karena cacatnya, mengabdikan diri ke yayasan apa adanya itu tadi, yang miskin “hepeng” untuk operasionalnya. Lawan para penyintas inipun tentu dari amatiran hingga ahli di dunia digital melalui media-media dunia maya yang dengan cepat dan gampang menyebarkan konten-konten glorifiaksi dan justifikasi perilaku teror.

Kepada pemerintah kita berharap. Bantu hepeng-lah itu yayasan-yayasan dan organisasi pengedukasi generasi muda di sekolah-sekolah itu. Rasa-rasanya lebih nyata upaya deradikalisasi generasi muda yang yayasan-yayasan berisi penyintas lakukan ini.

Penyintas ini membantu pemerintah, baiknya pemerintah juga bantu para penyintas ini dengan “membonceng” mereka dalam program deradikalisasi. Penguatan kerjasama dengan para penyintas ini sebagai garda terdepan adalah strategi yang paling pragmatis dan taktis.

Win-win solution! Semua menang! Kalau tidak percaya, tanya saja sama Sudirman Thalib, penyintas bom Kedutaan Australia di Jakarta tahun 2004.

Betewe, Koh Ahok, mau pakai cara win-win juga ama hakim di tingkat PK? Kalau dapat yang berintegritas dan gak takut tekanan apalagi takut mati, orang hukum (sarjana hukum dan praktisi hukum atau akademisi) bisa prediksi putusan PK nanti seperti apa. Kalau orang biasa, dengan rasa saja, rasa-rasanya juga bisa tahu mana yang benar dan salah.

Advertisements

Tragedi Mei 98, Holokaus Level Setengah!

Tragedi kemanusiaan, genosida bangsa Yahudi –Holokaus– yang diundangkan bahkan dalam Undang – Undang Nuremberg sebagai legitimasi “pembunuhan” bangsa Yahudi, sebuah tragedi yang membuat ras Yahudi sebagai subjek.

Sebuah kisah pilu dari seorang anak manusia yang berada dalam zaman pembantaian tersebut. Diteruskan oleh cucunya –yang seorang penulis– setelah membaca buku jurnal kakeknya –Olga Mecking– kakeknya yang seorang intelek yang mengalami sengsara dalam masa – masa masa bencana ini. Kakeknya yang akhirnya selamat dan kemudian diceritakan memiliki sense humor yang luar biasa. Kakeknya selamat dari dua kali upaya pembunuhan. Hidup bagai tikus dari rongsokan rumah terbakar ke rumah terbakar lainnya.

Rekonstruksi kisah kakeknya, dalam tulisan yang direncanakan diserahkan kepada suaminya yang seorang Jerman, sebagai penanda atau pelajaran masa gelap sebuah bangsa.

“Holokaus, cerita ini selalu tentang kepahlawanan atau korban; tetapi pilihan itu tidak untuk kakek Olga, kakeknya hanya seorang manusia yang bertahan hidup dalam masa menyesakkan yang tidak manusiawi”.

Kemudian, mari kita melihat tragedi Mei 1998 di negara kita tercinta, saat “tragedi” yang juga menargetkan “ras cina” sebagai sasaran. Ada dan jelas korban berjatuhan dengan pembenaran yang tidak mau seorangpun tahu. Siapa yang bertanggung – jawab tidak pernah dengan jantan mengakui di hadapan orang yang masih hidup, mungkin hanya mengecut di balik kuburan orang mati. Serombongan orang bahkan berani dalam ruang publik dengan bangga, mengancam dengan kata pengulangan tragedi mei ini. Ironi!

Tragedi Mei 1998, melahirkan kisah heroik, pahlawan dalam kursi – kursi empuk perwakilan atau mungkin eksekutif. Melahirkan cerita korban yang mencoba “move on!” Mungkin semata orang – orang yang selamat dan bertahan yang bukan pahlawan dan korban dalam tragedi tersebut, sedang membisu dan menunggu mati.

Berlebihankan jika saya dengan angkuh mengatakan tragedi lokal ini adalah holokaus level setegah! Holokaus yang diingkari ada undang – undang – nya di Eropa yang mengaturnya sebagai kejahatan. Mari berandai – andai usulkan pengingkaran “holokaus” Mei 1998 ini dinyatakan kejahatan. Sebuah baju anti peluru, terhadap peluru ide – ide busuk pemberangusan kemanusiaan.

 

Tu(h)an Hakim

Dia (dan dia) bukan seorang yang mempunyai kekuatan super bak superman. Tidak punya kemampuan sakti – mandraguna. Hanya pendidikan hukum dari tingkat strata 1 dan mungkin hingga doktor atau strata dua hingga bisa jadi seorang profesor. Tetapi, nasib setiap orang yang ditindas dan menindas ada di tangannya. Biasanya mereka berjumlah ganjil. Minimal tiga, ternyata sekarang kemudian mereka berjumlah lima. Tetap ganjil.

Nasib manusia kadang memang diputuskan dengan melihat suara kuantitas bukan kualitas. Voting.

Dia adalah tu(h)an di sebuah ruangan yang di-keramatkan oleh hukum. Hukum yang harus dipatuhi seperti yang di-doktrin oleh Tuan Hobbes. Sebuah simbolisasi kepatuhan keberadaban manusia. Tidak perduli menyakitkan atau penuh tipunya putusan yang para tu(h)an hakim ketuk-palu-kan.

Tok . . . tok . . . tok!

Terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan penistaan agama“.

Ini putusan yang sedang ditunggu oleh mereka. Ya mereka yang sedang menghitung uang dari si Tuan Polan, Pressinden Indonesick ke-6 atau mereka yang picik nyaman ber-jubah-kan identitas ketuhanan.

 

Tergantikan

Pernah mendengar kisah sukses Maradona? Pernah mendengar kejeniusan Jobs dengan produk Apple-nya? Mendengar kisah karir politik Soekarno sebagai “founding father” Indonesia? Mencengangkan. Tapi, mereka semua tergantikan. Tidak peduli seberapa hebat dan baiknya mereka melakukan perannya dan tugasnya. Mereka tergantikan. Baik karena mati atau karena dikalahkan waktu dan penyakit.

Kemarin, ada isu korupsi besar-besaran kembali di Indonesia. Korupsi mega proyek e-ktp (kartu tanda penduduk elektronik). Menyerempet banyak pejabat mulai dari tataran eksekutif hingga legislatif. Di hadapan uang, agama dan pandangan politik semua orang sama. Ungkapan ini terbukti lagi.

Inilah yang selalu dimaksud para pendahulu–walau dengan malu-malu–tentang menjadi bagian dari siklus yang korup. Teringat kembali ucapan seorang teman masa sekolah, yang dia pun berenang dalam kubangan lumpur kotor. Pragmatis.

“Jika saja ada -satu orang saja- yang memikiri negara ini, Indonesia akan berubah!” 

Di tahun millenial ini, pembesar dan pejabat kepada siapa nasib kita sandarkan, ternyata masih terbelenggu penyakit dari zaman koloni Belanda hingga Jepang. Koruptif. Mengambil yang bukan hak.

2,5 triliun dijadikan kue besar yang dibagi bagi mereka yang mengemban tanggung jawab.

Semua kebusukan dan pemberangusan kebusukan yang sedikit demi sedikit timbul ke permukaan, niscaya adalah buah kerja keras para pengusung transparansi. Keinginan untuk berubah dari seorang yang memikirkan bangsa ini. Kehidupan bagi para pengusung perubahan ini bukan melulu tentang urusan perut dan materi.

Sejak lama Indonesia  butuh (masih akan) orang – orang yang (akan) memikirkan dan membawa perubahan ini. Masih panjang jalan (mungkin). Regenerasi sejak kemerdekaan hingga di ambang pintu perubahan ini selalu tentang suksesor para orang koruptif. Pejabat koruptif selalu digantikan pejabat koruptif lainnya. Semua memakluminya. Terbiasa dengan membiasakan yang salah.

Hari ini, ada momen melanjutkan kinerja yang baik dari orang baik. Regenerasi dari orang baik. Harus tergantikan. Masa keemasan bagi orang dan perilaku koruptif sudah harus selesai. Harus digantikan orang yang berintegritas.

Indonesia berubah!

Besok, anak cucu akan berbicara tentang bangganya menjadi orang Indonesia. Bangsa yang berintegritas.

God bless Indonesia!!!

 

Wajah Valentine’s Day

Di hari kasih sayang, deratan kata seperti: pengagum( -mu); ketertarikan (hati), jadilah milikku (kekasih), kecantikan (parasmu), sekotak coklat (belgia), lilin makan malam (putih), cupid (bersayap), pacaran (mesra), bunga (mawar), kartu ucapan (sayang), penolong jiwa (tampan), bulan madu (di pantai), suami (gagah), perhiasan (hati), lingerie (victoria secret), surat cinta (tulus), cinta (asmara), mabuk cinta (tanpa arak), perkawinan (sejoli), asmara (jiwa), jomblo (abadi), Saint Valentine (kudus), pelamar (tanggung), kekasih (hati), pernikahan (suci), dan hari valentine. Itu semua sepatutnya memiliki wajah lain dalam sisi pandang kebusukan, kemunafikan, dosa dan kekurangan manusia.

Sebuah kesinisan. Akan ada pengertian sinis. Arti dari kata per kata tersebut mengikuti usia yang semakin sinis. Pernikahan yang suci dan sakral itu, sinisme mengubahnya. Pernah dengar ujar Eddie Cantor, soal pernikahan?

Pernikahan mungkin adalah hari pemakaman dimana seorang laki-laki mencium semerbak wangi bunganya sendiri

Baiklah. Di hari yang berbahagia ini, selamat hari kasih sayang bagimu. Di dunia dengan kasih sayang dengan dukungan sponsorsip.

 

 

Ide dan Realita

Bahasa dewa sering saya dengar dalam setiap upaya membumikan ide dan teori pada tataran realita. Layak eksekusi. Ternyata tidak gampang.

Bahasa dewa yang saban hari kita temui kemudian adalah setiap kata demi kata yang menghiasi lembar per lembar kitab suci agama kita masing – masing. Bibel, saya mengakui sebagai pengikut kristus melalui masterpiece-nya dalam diri Jesus.

Setiap kata dan rangkaian kalimat dalam Bibel yang saban diperdengarkan para ahli kitab dan saya pernah baca, sungguh begitu dan bagai uantaian kata yang menjelma seperti benda keramat, bak awan putih tak bercela. Untaian kata yang sangat terlalu indah untuk menjadi kenyataan. Bayang-an saya, begitu banyaknya pemikiran dan perkataan yang di-interpresentasi-kan para perwakilan Tuhan dalam setiap bab.

Manusia – manusia suci itu membawa atau mengemban label ke-Tuhan-an dalam setiap perkataan dan ujarannya. Firman. Patut disepakati dengan logika mereka “hanyalah” pembawa dan penulis berita di masanya. Para reporter di masanya. Keakuratan yang diberitakan tentunya akan dipengaruhi banyak pilar sebuah kebenaran berita.

Bahasa dewa yang ada dalam Bibel tersebut, jika kita jujur ada –dan mungkin banyak– tentunya akan saling tumpang – tindih dan saling berkontradiksi dalam satu dan lain hal. Seleksi pemilihan ayat – ayat untuk menghadapi masalah hidup menjadi seperti sebuah undian yang menjurus pada keganjilan. Dalam publikasi konsep wajah dari otoritas ke-kristen-an, sepertinya kita bisa memilih ayat – ayat yang cocok (sesuai) rupa Tuhan yang akan kita bawakan dihadapan khayalak.

Saya melihat ujaran dan ajaran “kasih” yang diagungkan dengan Jesus sebagai ujung tombaknya. Tetapi, ingatlah saat dia dengan (punya) amarah, memporak – porandakan dagangan orang – orang yang berjualan di dalam rumah Bapa-nya. Para pencari makan untuk bertahan hidup. Kasih yang diajarkan tentu akan menjadi kontradiksi dengan sikapnya kala itu. Ini contoh kritis kecil. Sudut pandang nya ada dua: Satu, ada ruang perlawanan untuk melawan hal yang tidak benar. Dua,kasih sepatutnya tidak mengenal merusak dan melawan dengan kasar dan secara fisik seperti orang tak berpendidikan. Bukan-kah begitu tafsirnya? Masih banyak tafsir lainnya, tetapi apapun pilihan tafsirnya, ada kubu yang dapat menguatkan dan melemahkan konsep kasih dan Jesus sebagai pelaku ajaran kasih.

Kemudian teringat sabda:

Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan”.

Apa yang akan dilakukan orang yang lapar dan haus akan kebenaran? Mereka sepatutnya akan melakukan segala upaya dengan taruhan yang tersisa demi sebuah tetes air dan potongan roti kebenaran. Harga diri, nama baik, sopan – santun dan sebagainya dalam ukuran kesopanan yang duniawi akan diabaikan. Mengorbankan segala yang mereka miliki karena lapar dan haus ini bisa membuat mereka mati. Ini tafsir lapar dan haus dengan pengalaman lapar dan haus perut. Mungkin rasa lapar dan haus akan kebenaran itu memang hanya bahasa dewa yang tidak ada dalam tataran realita.

Sebuah Mazmur Daud, tentang jawaban atas pertanyaan siapa yang akan tinggal dalam sanctuary Tuhan? Mereka adalah orang yang bersikap dan melakukan hal – hal seperti berikut:

He whose walk is blameless and who does what is righteous; He who speaks the truth from its heart; He who has no slander on his tongue; Who does his neighbor no wrong and casts no slur on his fellowman; Who despises the vile man but honors those who fear the Lord; Who keeps its oath even when it hurt; Who lend his money without usury and doesn’t accept a bribe against the innocent.”

Siapa yang berlaku demikian, tidak akan goyah selama – lamanya. Pesan akan kokoh selama – lamanya ini sungguh sebuah candu di suatu titik. Itu seperti tes dalam hidup untuk mendapatkan kekokohan dari segala hal tetapi dengan beberapa sikap yang sangat absurd akan dapat dipenuhi. Semua manusia akan gagal tes. Akan goyah.

Begitu gampang diucapkan. Ide yang indah dalam tataran bacaan dan didengarkan. Suci! Atau Dongeng mungkin!

Realita – nya? Sangat mengecewakan. Bahkan orang – orang yang karena situasi dan kondisi ber-adaptasi memenuhi urusan perut dengan membawa Bibel dan gereja sebagai mata pencaharian, melakukan penyelewengan ajarannya. Konsep carilah dahulu kerajaan Allah maka yang lain akan ditambahkan bagimu sepertinya cukup sebagai justifikasi bagi para pencari nafkah dengan eksploitasi ajaran Bibel ini. Sungguh dangkal.

Realitanya, melakukan kesalahan demi kesalahan dengan berbagai alasan sepertinya hal yang wajar dan jadi aneh jika tidak. Melakukan yang adil? Harus disesuaikan dengan garda perut. Fitnah merajalela yang di-setir oleh kedengkian, keserakahan dan hal picik lainnya. Teman, tetangga, bahkan saudara disusahi dan dicelakakan. Semua orang hina dengan ukuran dan standar dunia di matanya. Tiada yang mulia kecuali seseorang yang datang membawa bongkahan emas dan uang dalam kantong – nya untuk diberikan padanya. Sumpah dan janji adalah sekedar kepandaian menipu dan membodohi, dan akan dipuji mereka yang ahli menipu. Untung dan janji bisa dilupakan seperti air ludah yang disemburkan dengan jijik. Riba? Hukum ekonomi, kebutuhan dan untung. Sepakat. Hukum manusia menyebutnya itikad baik, kenapa pula Mazmur Daud dulu menghukum yang “cerdik” memainkan hal riba akan goyah suatu waktu. Semua akan bersepakat dalam diam akan semua realita ini.

Orang yang tidak menerima suap melawan orang yang tidak bersalah. Hal seperti ini menjadi sangat mustahil dalam ladang nafkah semua orang hingga pejabat pemerintah yang diberi wewenang untuk memberikan hak dan merampas hak. Suap! Siapa yang tidak mencintai uang? Kekuasaan dan gemilang nama tenar? Suap ini bisa mewujudkan apa saja bagi pemberi dan penerimanya.

Realita pahit ini yang tiba – tiba memaksa, di suatu titik melirik kembali sabda bahagia tentang rasa lapar dan haus akan kebenaran. Matius menyebutkan bahwa Tuhan menjanjikan akan memuaskan orang yang lapar dan haus akan kebenaran. Sudut pandang harus dipahami bahwa orang  yang lapar dan haus ini adalah orang yang bisa jadi amat sangat marah dan labil emosinya. Segala macam cara mungkin akan dilakukan untuk menemukan dan menunjukkan kebenaran itu. Orang yang lapar dan haus ini dalam suatu keadaan dan kondisi tidak akan sama dengan orang yang tidak perduli dengan kebenaran itu atau bahkan orang yang sudah penuh perut dan sudah hilang dahaganya akan kebenaran. Orang yang lapar dan haus ini bahkan adalah selalu orang yang tertindas dan kalah oleh keadaan dunia yang realistis.

Konsep bahagia akan rasa lapar dan haus akan kebenaran ini dengan janji akan dipuaskan seperti candu, bukan karena ada pilihan lain, tetapi karena bagi orang yang lapar dan haus ini, hanya inilah pilihan yang mereka punya. Mengejar kebenaran ini karena mereka percaya Tuhan akan dan harus campur tangan. Konsep pembalasan itu (mungkin) memang urusan Tuhan kembali sangat menggangu konsep keadilan di antara manusia. Kerinduan akan amarah – Nya yang sungguh sangat mengerikan dalam setiap hukuman bagi sesiapa bangsa apalagi terhadap mereka – mereka yang tidak kokoh, yang akan goyah ada waktunya. Inilah ujung rasa lapar dan haus akan kebenaran dari mereka yang tertindas. Pembalasan.

Widji Tukul melawan dan hilang, mungkin mati. Para tertindas bertanya: “Siapa yang akan membalasnya?” Widji itu gambaran dan contoh besarnya. Pencarian kebenaran versi Widji ini berlaku sama terhadap rasa pencarian kebenaran dalam hidup sehari – hari saya, kamu, dia, mereka dan yang lainnya.

Sabda berbahagialah jika masih kokoh mencari kebenaran dan menjadikannya sebagai rasa lapar dan haus, karena akan dipuaskan patut menjadi “candu“.

 

 

Hak (Asasi) Manusia

Hak untuk bahagia!

Semua hingar – bingar hak asasi manusia tidak boleh tidak haruslah berujung pada hak si manusia untuk bahagia.

Perlindungan hak asasi manusia? Indonesia tidak menyebutkan secara tegas konsep perlindungan “hak untuk bahagia” bagi setiap warga negaranya.

Tapi, karena bicara hak asasi manusia patutlah itu adalah hak untuk bahagia yang tersirat. Bicara hak untuk bahagia dalam memeluk agama di Indonesia yang sangat miris dan meresahkan. Hak memeluk agama dan aliran kepercayaan di Indonesia disebut tegas dalam konstitusi. Konsep ke-TYME yang “rasional”- sepatutnya adalah konsep membebaskan orang memilih (dipilih oleh) Tuhan yang membuat dia bahagia. Tetapi, di Indonesia konsep ini, dibuat dengan membatasi konsep agama /aliran kepercayaan yang diakui dan dilindungi negara. Ke- Tuhan -an yang dibatasi. Ini pelanggaran hak yang serius.

Bias sangat besar kemungkinan timbul ketika tafsir urusan manusia dengan akhirat ini, dikerangkeng oleh limitasi pengakuan negara. Sehingga muncul penegak – penegak agama yang mengatasnamakan agama dan penyucian agama. Gafatar, Ahmadiyah dan lainnya yang sejatinya mungkin ingin bahagia dengan mencari Tuhan yang membuat mereka bahagia malah babak – belur dihakimi dihadapan konstitusi. Negara kadang hadir melalui aparat untuk meng-eksekusi “penyucian” agama yang diakui negara ini.

Penyerangan terhadap tempat ibadah dan hak beribadah atau simbol agama yang bahkan diakui oleh negara dilakukan dengan terbuka. Perang suci mungkin hal itu bagi mereka.

Hak asasi manusia untuk beragama ini tercoreng hitam dalam laku pemerintah negara yang diam-diam dan kadang takluk pada arogansi sepihak orang -orang yang merasa berhak. Itu menjengkelkan.