Dunia yang Absurd … (1)

Bayangkan “seorang” Tuhan yang datang ke bumi, untuk “menyelamatkan” manusia dari siksa api neraka. Dia lahir dengan meninggalkan cela pada seorang perawan yang belum pernah bercinta. Tuan Ocep sang kekasih, dengan senang hati mau menjadi ayah bagi dia saat akan lahir. Dia (Tuhan) memilih seorang wanita baik-baik. Sebuah berita baik setidaknya, bukan dari seorang pelacur yang melayani banyak lelaki. Kecerdasan intelektual Sang Pencipta agak “benar” di sini. Bayangkan jika anak-nya satu-satunya yang bertugas menggenapi perintah, lahir dari seorang “lonte” yang … akh, mungkin Tuhan pencipta juga mempertimbangkan “apa kata dunia” kala itu.

Kemudian, Jessy tumbuh di sekitar belahan dunia yang sempit di belahan dunia di timur tengah di sana. Dunia yang sempit. Dia dikhususkan untuk menyelamatkan para Yahudi dan / atau Israel atau siapapun yang bukan orang asia, eropa, kulit hitam dan ras lainnya. Kemudian, dia menjadi “raja” bagi mereka, di dunia yang sempit itu. Dia manusia yang tidak melakukan dosa. Mungkinkah? Padahal melawan orang tua pun sudah “dosa” bahkan di daratan bumi yang ditempatinya.

Sebelum dia menjadi Jesus yang terkenal itu, dia tidak ada melakukan dosa?
Baiklah, Jessy! Dunia yang kita tempati ini absurd. Bagaimana kabarmu di atas sana? Setelah mati dan terangkat ke surga. Apa tugasmu sekarang? Apa yang kau lakukan sekarang? Apakah, dirimu bertanya lebih banyak kepada sang kreator semua jalan cerita ini? Dunia yang dijanjikan oleh Tuhan yang kita percayai dimulai dengan banyak absurditas, dan sekarang masih penuh dengan absurditas.

Absurd yang sebagian orang lihat ajaib. Absurd yang sebagian orang lihat kejam.

 

Advertisements

Heading 01 Mei

Dear Keenan,

How’s your day? In this month, you’re reaching the 1 year and 10 months age. Next 2 months you’ll be 2 years old. How’s your life since born the day of the May-day 2015?

I’m curious (always) about what you have done; you do; you’re doing and you will do. Always interesting to see your activity. Your responses. Your smile. Everything about you. You will learn everything and what I can do just warn you when it comes not right.

To show love for you in this age so confusing. What I can do perhaps only to hug you when I around. Accompany you playing and screaming for fun. Laughing of course.

I’ll give you the world if I can.

The day will go and maybe I will change or you will, but remember one thing that very important I can say…

“I love you”

 

 

Jadi Apa

Nanti kalau udah gede mau jadi apa?” ini pertanyaan yang saya tanyakan pada anak saya –keenan– usia 1 tahun 8 bulan.

Pertanyaan yang seharusnya masih sangat relevan ditujukan pada saya sendiri di usia kepala 3 di tahun ini. Ganjalan terbesar dalam hidup saya yakni untuk menemukan tujuan keberadaan saya ada dan dilahirkan. Mengenali diri sendiri dan jujur pada keinginan sepertinya amat sangat susah dilakukan. Masalah hukum -berlatar keserakahan dan pejabat polisi korup- datang “menyapa” orang tua dan keluarga “berdampingan” dengan kesibukan tanggungjawab pekerjaan menjadi pengalih perhatian. Perhatian dan fokus pikiran yang pecah, akan hasrat jiwa untuk membela yang benar dengan melaksanakan tanggungjawab pekerjaan.

Ada romantisme masa silam, ide di kepala dan hasrat di hati menjadi seorang pembela kebenaran bagi orang – orang yang tertindas, yang kini jauh bersemayam dalam pencilan hati, yang sangat rentan hilang dan jika semakin dibiarkan akan terkubur jauh hingga terlupakan.

Pribadi ini telah kehilangan visi dan misi hati. Jangan – jangan pribadi ini mungkin sedari dulu memang tidak ada visi dan misi di hati. Realita yang saya pahami, pribadi ini nyata terjebak dalam rutinitas seharian. Menyambung hidup. Pertanyaan – pertanyaan sederhana hidup yang konkrit bagai beban raksasa pertanyaan tentang hakikat hidup yang buntu. Tiada manfaat. Kesia-sia-an hidup.

“Apa yang telah saya lakukan selama hidup?” berkali – kali tanya ini datang singgah di pikiran.

Kehadiran yang tidak memberi pengaruh bahkan saat saya ada, dan pasti ketika mati tidak akan dicari. Ini sangat menakutkan.

Apa yang akan diingat dari saya? Kupandang sosok anak kecil yang sangat penuh rasa ingin tahu di hadapan saya. Darah daging saya. Sosok saya versi baru. Sedang memulai kehidupannya dari nol. Dia akan mencari jati dirinya. Mencari dengan gundah tujuan hidupnya. Bertemu ragam orang dan ragam lingkungan. Dia akan melihat saya sebagai contoh. Melihat saya sebagai sosok panutan. Apa yang akan dicontohnya dari saya? Apa yang harus saya ajarkan kepadanya? Bagaimana mebuatnya menjadi manusia yang melakukan apapun untuk menjadi dirinya yang sejati? Membantunya menjadi dirinya yang membuatnya bahagia? Bahagianya akankah menjadi bahagia sekitarnya? Bagaimana caranya? Menjadi apa?

Hari ini, terkejut kembali menapak silam puluhan tahun mencari hakikat dan tujuan hidup, dan saya rasa masih ada yang mengganjal yang ingin saya gapai. Pertanyaan kemarin kepada anak saya itu, membuat saya tersadar. Ada beban penciptaan akan tujuan dihadirkan di dunia ini. Beban untuk semua orang, termasuk saya dan anak saya. Menjadi apa?

Di titik ini, bantuan (kembali) tak berkesudahan dari Sang Pencipta agar menunjukkan jalan dan membimbing menjadi harga mati. Tuhan dimana?

Law wins but . . .

There are problems show up in our society but no one has the gut to fight. People has no eager to fight for his right. They just see it. Accept and live as usual -oppressed- again and again. They believe in change but in a sacred way. Believing that change is God business. People don’t trust the government but they always hope for them.

This nation relies on law. Every single activity is bow down to the law. The question is -always- whose the law that protected? Law enforcement is influenced by power and money. Corrupt government. Corrupt justice. Corrupt law enforcer. No one, ever a money-less citizen will win against the corrupt system. This kind of people always loose. This kind of law always win. The law that supporting the power-man, the money-man.

People taught that the only way to survive in this kind of state or world is by adapt to that corrupt system. Bribery. Stealing. Mocking. Corrupt. Collusion. Nepotism. In the weekend day going to the church and ask forgiveness. Adapting is the only choice to live worldly. The other option is to keep silent and wait for miracle or death.

The day, when you have to choose: stay silent or stand up for your right. The day when this corrupt system trying to crush you to the pieces. The day when the world looks evil and has to repair. The day, where this kind of law will crush.

It will be exhausting but we know in heart that it is worth.

 

 

Joseph, Who Understood

Empati. Menafsir sebuah sisi lain sebuah perjalanan seorang legenda dunia – akhirat. Menakar ketangguhan seorang bernama Joseph dalam menjalani hidupnya, tentunya juga cintanya untuk Maria. Ketangguhannya paling tidak sampai disebuah penyelamatan masa depan seorang anak dalam persepsi duniawi, bahwa yang akan lahir bukan seorang anak yang tidak dikenal siapa “bapak”-Nya.

Rumours are flying

All over Galilee these days
And Mary, I’m trying
To be cool

When my friends walk by them
They cannot look at me
In the eye
Baby, I’m trying

You’re asking me to believe in too many things
You’re asking me to believe in too many things

I know this child
Was sent here to heal our broken time
And some things are bigger
Than we know

When somehow you find out
That you lost a father
To a god
Well, Mary, that’s life

You’re asking me to believe in so many things
You’re asking me to believe in so many things

Oh Mary, is he mine?
Mary, is he mine?
Mary, is he mine?
Mary, is he mine?
Oh Mary, is he mine?
Mary, is he mine?
Tell me, is he?

You’re asking me to believe in too many things
You’re asking me to believe in too many things

Now, Mary, he is mine
Mary, he is mine
Mary, is he mine?
Now, Mary, he is mine
Mary, he is mine

You’re asking me to believe in so many things
You’re asking me to believe in so many things

Sebuah pilihan, Joseph bertahan untuk itu, demi seorang Anak dan wanita yang dikasihi – Nya. Pengorbanan!

Feliz Navidad to New Pornographers!

 

 

Ujian Terakhir

Maukah dirimu menukar jatah surgamu, untuk para kafir saat di surga nanti?”

Kehidupan manusia dari zaman dewa – dewa hingga zaman ke-esa-an Tuhan telah manusia lalui dengan banyak hiruk – pikuk yang brutalnya kadang menumpahkan darah sesama manusia. Tragis saat darah yang tertumpah demi dan atas nama Tuhan. Simplikasi nalar mengatakan ada oportunis yang membuka keran pembantaian sesama manusia dengan jubah “Tuhan” semata demi kepentingan orang – per – orang.

Sekarang, dengan mengasumsikan bahwa fenomena bahwa hanya ada satu Tuhan yang menciptakan dan empunya bumi dan segala isinya, ada masalah beberapa agama yang meng-klaim ke-esa-annya juga sebagai jalan menuju surga. Ini ruang tabu diskusi tapi penyebab malapetaka yang tiada henti. Agama yang menjadi perusak sejak di dalamnya.

Suatu saat langit runtuh dan ajal menjemput, perwakilan Tuhan akan datang menghadapkanmu pada Yang Empunya banyak bumi dalam kotak mainannya. Banyak luas tanah surga untuk semua orang.

Kamu masuk surga” ujar Nya.

Tapi tiba – tiba kamu melihat seorang kafir di agamamu yang kamu pahami dalam pintas bayang dibelakang singgasana Tuhan. Seorang anak kecil, seorang tua renta dan seorang lumpuh yang tidak mengenal Tuhan-mu dan banyak lagi. Mereka sedang berbondong masuk neraka. Pucat – pasi menuju api dan siksaan.

Mata mereka memandang ke arahmu. Sebuah rasa takut. Ingin menggantikanmu masuk surga. Tanya ini akan disisipkan dalam kepalamu oleh Tuhan – mu.

“Apakah yang akan kamu lakukan?”

Di penghujung hidup yang akan dengan setuju kamu yakini akan keadilan hari penghakiman. Tuhan ternyata seorang yang kejam. Tuhan tidak paham ketidaksempurnaan manusia.

Di penghujung hidup, adakah sudi kamu menggantikan tempatmu di surga untuknya yang menuju neraka? Berkorban?!

Ini ujian terakhir dalam iman. Jikapun kamu memilih neraka saat berhak atas surga demi seorang yang sedang antri menuju neraka. “Bukankah kamu akan melebihi seorang Tuhan?”

Seseorang pernah melakukannya, namanya Jesus.

Those Christmas lights
Light up the street,
Down where the sea and city meet.
May all your troubles soon be gone.
Oh Christmas lights keep shining on.

Sekarang kau belum mati, pun Jesus yang kusebut, yang rasanya kukenal itu, sedang akan di buatkan perayaan lahir sebentar lagi.

Feliz Navidad!

No Hero Land

Imagine a land without the hero. Hero that clearly egoistic. Taking advantages for his own. Self – centered is the end of the hero story – as always. Hero’s needed by the brutal place. Hero’s needed by the unjust society. Hero’s needed by the broken system. Imagine a land without hero. A land that just just naturally. Society of no hero.

In the land that money is nothing just number. Every person in the society enjoy his life without rely on sacred person or thing. In the land that bad guy’s erased by atmosphere without mercy. Land where nobody stand against the kindness. Everybody have the same vision about the togetherness. Reaching goal for the better world.

If God is a hero, in this land Thy wont be needed also. If approval the God existence would be a must in this land, the clear and assertive God is the one.