Commending Toga’s Spirit

Lelaki itu, berjalan menyusuri rumah tinggalnya. Rumah tua yang ditempatinya turun-temurun dari buyutnya. Dia berdiri di halaman rumahnya. Menghadap jalan besar yang biasa dilewati para pebisnis kala itu. Dia sendiri. Beberapa orang masih menyapanya.

“Horas amang”

“Horas Lae”

“Horas Tulang”

Dia menatap barisan rumah sanak saudaranya di samping kiri – kanannya. Dimana istrinya? Konon, kekasihnya sudah lama berpulang. Dia kemudian menikah kedua kalinya.

Hari itu, hari terakhir pergantian tahun. Istri kedua dan anak-anaknya tidak bersamanya hari itu. Anak dari kekasihnya yang pertama, memilih menjadi “bandal”. Si Lomo, mungkin lari dari keluarga barunya yang tidak mengasihi dan dikenalnya. Dia asing dengan adik-adiknya walaupun satu bapak.

Lelaki, itu berwajah klimis. Wajahnya tenang. Dia memakai baju kemeja putih polos lengan panjang hari itu. Celana hitam dengan sepatu kulit hitam yang dibelinya dari onan di Tarutung. Sepatu pemberian kekasih pertamanya. Istri pertamanya. Meninggal entah kenapa? Lelaki ini tidak pernah bercerita pada Lomo. Lomo pun saat itu masih kecil ketika ditinggalkan Ibunya. Ditinggal mati.

Lelaki itu, bernama Toga. Toga pagi itu, mulai berjalan menuju arah keramaian di desa kecil yang bernama Lagoeboti. Ada persimpangan jalan yang menjadi tempat berkumpulnya masyarakat. Pusat keramaian untuk berdagang. Sayuran, makanan dan barang sehari-hari. Toga menikmati setiap langkah yang diarahkannya. Matanya merekam semua aktifitas. Semua senyum. Semua kecut. Semua mimik yang selama ini luput dari penglihatannya. Selesai dari sana, Toga berjalan kembali, dari rumah ke rumah orang-orang yang dikenalnya. Sanak saudaranya.

Tiap rumah diketuknya, jika tidak ditemuinya orang-orang yang tinggal di halaman rumahnya. Senda-gurau. Dia seperti mencoba menerima semua pesan, semua keluh yang ditemaninya bicara. Dia seperti akan menyampaikan keluh-kesah itu kepada orang yang bisa menyelesaikannya. Orang-orang yang dijumpainya pun menceritakan dengan lekas dan lepas.

Tidak terasa, hari sudah siang. Perut sudah kerongkongan meminta asupan. Dia berjalan menuju “lapo”, rumah makan khas Batak di dekat rumah tinggalnya.

“Horas tu amang i” sambut yang punya lapo.

Toga tersenyum dan membalas “horas”-nya.

Toga mengambil tempat duduk, di pojok lapo. Di posisi dia bisa melihat semua aktifitas di dalam lapo. Aktifitas di sepanjang jalan besar di Lagoeboti, karena posisi laponya terbuka.

Saksang, panggang, napinadar, sop babi, sayur singkong ulek.

Disajikan. Toga berdoa. Dia mulai makan, tiap gigitan makanan yang disajikan, dinikmati dengan sangat. Ada rasa syukur.

Selesai makan, Dia meletakkan sejumlah uang di meja tempat dia makan, sebagai bayarannya. Karena Dia tahu kalau menyerahkan langsung, pemilik lapo tidak akan mau menerimanya.

Toga kemudian kembali ke rumah. Tidak ada ditemuinya seorangpun di rumah. Istri kedua dan anak-anaknya tidak ada seorangpun di rumah.

Toga,  kemudian berjalan mengikuti lekuk rumah yang ditempatinya selama ini. Dia duduk sebentar di ruang depan. Masuk ke kamar yang dipisahkan sekat kelambu tipis. Dia lihat foto kekasih pertamanya. Foto anak-anaknya dari istri pertamanya. Lomo dan Tiamin. Dia tersenyum.

“Maaf” bisiknya lirih kepada dua anaknya itu. Entah kapan terakhir kali Dia bertemu dengan Lomo. Lomo lebih memilih tidak mau tinggal dengan ayahnya sejak menikah kedua kalinya. Lomo lebih banyak menghabiskan waktu di desa Tamboenan. Satu – dua jam perjalanan dari Lagoeboti. Di rumah neneknya. Di rumah Tulangnya.

Toga kemudian berjalan menyusuri gang rumahnya dengan rumah milik kakeknya menuju kebun di belakang. Rindang di belakang sana. Banyak pohon besar di sana. Pohon durian, kemiri, beringin dan pohon besar lainnya.

Sore itu jam tiga sore.

Toga sendirian di sana. Disaksikan makam ayah dan kakeknya.

Toga menitipkan jiwanya pada Sang Pemilik Jiwa.

Dia tidak melewati malam pergantian tahun itu dengan seorangpun keluarganya.

Lomo pulang malam itu. Dia tidak menemukan sesiapapun di rumah.

“Among… Among…”

Lomo tertidur di ranjang milik ayahnya. Lelah dia berjalan dari desa Tamboenan ke Lagoeboti seharian.

Besok paginya… Lagoeboti mencekam!

 

Advertisements

Menulis Takdir

Hariara.

Mengeja nama – nama orang – orang yang dahulu dikenalnya masih keluarga. Ada kesumat dan iba sekaligus.

Keluarga yang malah menggugat ayahnya. Si tua yang sudah seharusnya menikmati masa tuanya. Semata karena serakah harta. Mereka yang berada di jalan setan, malah merasa benar. Mereka yang menindas malah jumawa. Tiada ketir dan takut. Dari ujung timur ke ujung barat dunia, semua setan ini berperilaku sama.

Mereka menyebut nama Tuhan dengan merdu dan sopannya. Adakah mereka sedang mencoba merayu? atau membodohi Tuhan sang maha? Sungguh aneh saat semua begitu berkebalikan. Yang jahat merasa baik. Membalut setiap busuk dengan kata santun dan menyelipkan nama Tuhan. Bagaimana bisa? Mereka menarik simpati manusia bukan Tuhan. Manusia yang dibodohi dan mabuk dengan polesan kata dan senyum manis. Sebodoh itukah manusia? Sebodoh itukah keadilan?

Tuhan mungkin sedang bermain. Atau Dia sedang terlelap sekejap. Tiada yang tahu. Hanya mereka yang di dunia yang mati atau di dunia para orang suci yang tahu. Meratap mungkin Dia melihat para satria yang diujinya.

“Bertahanlah!” mungkin ini bisiknya melalui senyum istri dan anaknya.

Dengan jalan panjang melelahkan dan menghina seperti ini dilalui ayahnya, Hariara bergumam pada malam.

“Tuhan tidak akan memainkan kami di akhir hari, saat panjangnya gelut dan kemelut yang dibawa para setan ini dihadapi dengan waras!”

Tuhan bisa saja menyentil mulut mereka atau menyentuh hatinya. Tuhan bisa saja memurka mereka atau memeluk mereka. Tapi, Dia tidak sedang akan mengakhiri gelut serakah ini sekarang. Di ujung hari Nya akan ada sebuah akhir. Besok mungkin. Besok dari besok. Besok seterusnya. Entah.

Mereka nyaman bisa membeli aparat penegak hukum mungkin. Membeli polisi, penegak hukum. Yang benar harus merasa takut di hadapan para penegak keadilan. Ini sangat meresahkan. Setan – setan itu bersaudara dengan para setan di instansi penegak hukum. Keadilan apa yang dapat didamba dari amis uang hantu yang dimakan setan?

Menegakkan keadilan memang pekerjaan Tuhan.

Menulis takdir adalah pekerjaan Tuhan.

Hariara berdiri menatap derai hujan di balik kaca rumah. Memorinya menuju kegelapan niat. Dunia yang memberikan ruang sukses bahagia bagi mereka yang menjabat tangan setan dalam memulai harinya. Apakah sebegitunya, dunia berjalan baik bagi mereka yang bajingan?!

Tuhan sedang lelap atau dia mungkin sedang menulis drama tragedi yang akan menghasilkan kisah sukses bagi jalan hidup seorang anak manusia. Dalam drama trgedi ini, Hariara dan ayahnya hanya figuran. Malaikat dan penghuni surga menonton di layar bioskop. Haru dan bahagia. Serapah dan caci sepanjang lakon.

Menanti seorang pahlawan. Pahlawan utusan takdir.

Drama masih berlanjut, para penonton sudah jenuh. Mereka meneriakkan, agar derita dicukupkan. Waktunya saat bahagia.

Dog-trin

Serupa anjing yang dilatih majikan. Imbalan sebuah tulang. Kadang daging dari toko makanan hewan peliharaan terkenal. Serupa anjing yang dilatih berprilaku dan bersikap.

Lelaki itu meledakkan dirinya di sebuah pusat keramaian. Korban berjatuhan. Dia memiliki 10 detik waktu untuk menyadari bahwa jiwanya telah beranjak. Langsung menuju sebuah tempat yang seorangpun tidak tahu pasti.

“Semoga membusuk dan menderita di neraka!” ujar seorang aktivis hak asasi manusia, yang hidup dengan menyesuaikan garda perut dengan garda sumbangan asing dan si tajir kaya yang tidak tahu duit mau dikemanain.

“Semoga dosanya diampuni.” ujar seorang pengemis yang mungkin memahami beratnya derita hidup yang saling kait – mengkait. Ketidakadilan selalu menjadi awal dari segala kejahatan.

Lelaki, itu bernama Jonny. Jonny dikenal seorang pendeta. Dia ter – dog-trin. Dunia menjadikannya sample baru pembelajaran sifat dan perilaku kejahatan teror. Jonny serakah, tetapi semata karena butuh uang untuk anak dan istrinya dan tuntutan kehidupan gaya hidup dan mapan di masa tua. Tuhan tidak turun ke bumi untuk membantu kebutuhan Jonny.

Proses bantuan dari Tuhan mempunyai siklus yang tidak tertebak. Semua bisa di-cocokmologi-kan saat semua dan sebuah peristiwa terjadi. Positivisme kekuasaan Tuhan selalu ada dimanapun, bahkan hingga kondisi kehilangan atau tiada nilai kemanusiaan di dalamnya. Jonny tidak bisa bersabar.

Jonny, mencukupkan, campur tangan Tuhan dalam paska ledakan saja. Mungkin Jonny akan bertemu Tuhan. Bisa juga, masuk bilik Tuhan tetangga yang menyediakan tujuh puluhan bidadari untuknya. Direinkarnasi kembali. Disiksa di api neraka. Jonny siap menghadapi.

“Terkutuk dan terkutuk!” penggalan pidato presiden dari kantor besar istana yang dibangun dengan uang negara. Uang yang harusnya bisa dipakai memenuhi kebutuhan Jonny. Pidato itu disiarkan ke seluruh penjuru dunia.

“Kita sukses besar!” seorang tubuh besar dengan telepon, sedetik setelah kejadian langsung menelepon. Entah siapa yang diteleponnya.

“Akan saya tambah duit operasi dan duit rekrut Jonny yang lain” jawab di seberang telepon.

Dunia dengan atau tanpa Jonny, tetap berputar. Anjing – anjing sedang dilatih oleh tuannya di taman ibukota. Jonny – Jonny lain yang terkungkung perut, harga diri, psikologi diintai oleh para opportunis.

Di sudut lampu merah, di bawah jalan melayang.

“Hei, kamu gadis muda yang sedang mengamen dari mobil ke mobil” sapa seorang parlente dari mobil fortuner keluaran terbaru.

Si gadis melihat.

“Apa?”

“Mau dapat uang banyak tidak?” ucapnya dengan senyum berhias kumis tipis.

Dibukakannya pintu mobilnya oleh supirnya.

Gadis itu butuh duit banyak. Duit untuk biaya berobat Sarah. Adiknya. Mereka berdua anaknya Jonny. Jonny yang sudah mati itu.

Gadis itu masuk ke mobil dan dibawa pergi. Melewati pos polisi yang di dalamnya petugas polisi tiga perempat masa tugas, yang sedang memikirkan gaji bulanannya yang tidak cukup untuk membiayai biaya kuliah anaknya yang mau kuliah.

Dunia berjalan kembali. Dengan atau tanpa nyanyian gadis pengamen di lampu merah.

Dog-trin! Menyelubungi semua perilaku manusia. Dipaksa masuk ke otak atau masuk dengan sukarela. Seseorang atau lingkungan melakukannya bergantian.*

 

Preambule : Sebuah Cerita tentang Borges

Ilmu pengetahuan ke-sastera-an ternyata kadang menimbulkan polemik tersendiri di kalangan ahli sastra (seni). Sastra ternyata tidak sesederhana sajak pantun dan rima khas melayu. Ada orang – orang yang bergerak dengan ideologi dalam Sastra Indoneisa. Ideologi sastra mereka kemudian menjadi anti mainstream (mengenai golongan mainstream di Indonesia secara vulgar disebut adalah Group Utan Kayu atau semacam itu). Kritik sastra yang digelontorkan berkali – kali menyerang para tokoh sastra yang dicap “kapitalis” atau tidak murni menyuarakan atau bergerak dalam sastra sebagai ilmu pengetahuan dan pembaharuan. Imu pengetahuan (seni) untuk memberitahukan permasalahan lingkungan dan masyarakat untuk dan demi sebuah perubahan. Bagi golongan mainstream, sastra hanya seperti alat romantisme bagi personal dan golongan tertentu untuk melanggengkan dan memuaskan nafsu pribadi dan golongan tersebut. Mewah dan “wow” di tataran permukaan –bahasa– tetapi tanpa kedalaman dan tujuan yang tiada guna dalam susbtansi.

Riak perlawanan yang cukup menyita perhatian tentunya adalah kisah seorang kritikus sastra bernama Saut Situmorang. Sastrawan yang mungkin (hanya mungkin) juga tak akan mau disebut sebagai tokoh sastra di Indonesia. Dia “arogan” dengan caranya sendiri dalam mempertahankan kemurnian dan progresifitas ilmu sastra baik dari ilmu dan kemurnian dan daya upaya tokohnya (secara personal). Kabar terakhir Saut dipidana 7 bulan dengan percobaan karena melakukan pencemaran nama baik kepada seseorang (bernama Fatin) atau beberapa orang karena aktivitas mereka yang oleh Saut dicap sebagai pencemaran nama baik kepada kesasteraan tanah air yang menurutnya masih sangat pantas untuk diperjuangkan. Kritiknya adalah kepada dugaan sebuah propoganda massive melalui pencantuman seorang bernama Denny J.A sebagai tokoh sastra paling berpengaruh di Indonesia -dalam sebuah buku.

Dia –Saut– kalap dan marah. “Bajingan!” adalah kata yang menjadi akibat dari aksi dugaan propaganda Fatin dan Denny yang -konon- dimulai dari ide sayembara penulisan puisi essai untuk meng – goal – kan penahbisan Denny sebagai tokoh sastra paling berpengaruh.

Preambule ini, sebenarnya seperti curahan hati kebuntuan. Ide cerita Si Borges yang berniat menjadi pahlawan dari sengkarut penistaan danau toba ini menjadi bersinggungan dengan cerita polemik sastra di tanah air seperti di atas. Karena -jujur- niat awal ketika ingin menuliskannya adalah karena sayembara puisi essai Denny J.A –puisi essai ini penjelasan singkatnya adalah tentang penulisan karya sastra bentuk puisi dengan pencantuman catatan kaki referensi faktual dalam karya puisi tersebut– yang dipublish untuk umum. Tetapi kemudian, mengalami pertentangan sendiri dalam gaya penulisan (belum lagi menemukan ritme penceritaan dan alur yang tepat) karena pada dasarnya Si Borges ini harapannya adalah sesuatu dalam seruak sastra untuk menggelitik polemik lingkungan dan masyarakat di sekitarnya –danau toba.

Tidak menyangka bahwa kemudian polemik tersebut menjadi batu kerikil sandungan penulisan kisah Si Borges. Idealisme Saut Situmorang sedikit menjadi penimbang. Mungkin. Persentasi kisah dengan model puisi essay sudah 70% dan akhirnya terpending.

Dilema tetap mengikuti gaya baru dalam literasi sastra Denny J.A yang –puisi dengan catatan kaki faktual– yang dicap tidak pantas menjadi tokoh sastra atau mencari jalan tengah antara penulisan novel dengan sisipan puisi di dalamnya. Ide penulisan karya sastra ini kemudian masih terkubur dalam ide gaya penulisan (dan belum lagi alur dan pengumpulan bahan). Paling tidak polemik si Saut dan Denny via Fatin ini memarkir ide. Proses pendewasaan sebuah literatur karya sastra di antara carut – marut kepantasan seseorang sebagai tokoh sastra ini meninggalkan ide yang tertunda.

Saya percaya, semangat sastra -walaupun sebatas bisikan- adalah untuk menyuarakan kebenaran bukan remeh-temeh semata ritual kultus idola dan penyebutan gelar mewah –dengan sebuah rekayasa– karena hal – hal yang demikian, tentulah dan biarlah sejarah sendiri yang akan menceritakan nama tenar dan pengaruh tersebut.

Di ujung pena di malam ini, si Borges masih menikmati jadi tukang parkir di persimpangan jalan.

Kiriii . . . kiriii . . . munduuur . . . munduuur . . . stoooop!!!” sesekali dihisapnya batang rokok disela jari manisnya di tengah aktivitasnya.

 

Osea Pattege

Tiga tahun lalu, Pace Osea datang dengan senyum manis khas keramahan orang timur Indoneisa. Perawakannya gendut hitam pendek dan rambut keriting khas papua yang dipotongnya pendek, sangat pendek cenderung botak. Osea “dikaruniai” cacat di  kakinya hingga harus berjalan menggunakan tongkat bantu. Osea juga memakai tas noken yang melingkar di bahunya. Dogiyai, sebuah kabupaten pemekaran di Papua, dari sanalah dia berasal.

Semangatnya dan cerita hidup perjuangannya melewati reka drama melankolis penderitaan sinetron sajian televisi mainstream. Tuhan disembahnya mungkin tidak diumbar di setiap tindak dan langkahnya bertemu orang, hanya ketika malam dan sendirian dia tertunduk bercuap rindu dengan Tuhan-nya.

Osea menceritakan tentang perjuangan membangun diri dan daerah tinggalnya. Osea mengajarkan tentang menjadi cerdik dan “licik” sekaligus. Osea masuk dalam semua labirin dan menemukan jalan masuk keluar dan menemukan apa yang dicarinya. Osea yang hitam pendek, bergerak memposisikan diri di setiap kontra dan pikuk yang di – hiruk. Osea mengerti bagaimana menghadapi semua jenis manusia yang ada. Osea mengerti semua sisi orang ketika orang tersebut haruslah dihadapinya. Osea berada di pihak yang benar paling tidak untuk dirinya sendiri. Osea mungkin paham betul, bahwa cerdik akal adalah mahkota orang bijak.

Osea, sangat cukup untuk memenuhi dan mencari tujuannya. Cukup sangat untuk mengatasi dan menerima masalahnya. Tidak lebih dan tidak kurang.

Osea seorang ahli lobi.

Bung Osea dari Dogiyai berjalan dan menentukan arah jalannya sendiri dan akan diikuti oleh seluruh penduduk di sana. Osea akan menjadi inspirasi. Cerita ini sederhana, sekelumit kecil perjuangan dari bingkai raksasa gerakan perjuangan lobi internasional Benny Wenda yang ingin memilih berpisah dari Indonesia.

“Horaaaas Buuung!!!” sapa Pace Osea kala itu karena tahu saya seorang Batak.

 

 

 

Komedi Putar – Iblis Bernama Cinta

Berputar . . . Ada waktu di bawah – tengah – atas . . .

Itulah alur hidup satu – satunya yang diketahui si One, anak kampung seberang yang bercita – cita menjadi pembela kebenaran dan mengembalikan hak hidup orang – orang kecil miskin dan teraniaya. Bak komedi putar yang beraktifitas di malam hari di kampung – kampung miskin hiburan. Tapi komedi putar ini tidak akan menceritakan tentang pertarungannya menghadapi si zalim dan lalim penguasa atau ber-intrik dalam politik kotor tanpa kolor demi guratan idealisme di kepala.

Si One sedang jatuh cinta kepada seorang gadis dari desa sebelah seberang desanya. Gadis yang menawan hati dan pikirannya jauh mengalahkan daftar incaran yang ada di kepala. Fokus dan tujuan hidupnya yang sudah lama tak terprogram kembali tersentuh dan harus di – resetting kembali.

Si Cinta akan menjadi istriku demi dunia akhirat!” gumamnya dalam doa diam – diam di gelap kamarnya.

Si Cinta, perempuan manis yang akan dengan mudah menarik hati para kumbang sekitar. Cinta mungkin sedang terisolasi dalam ketidakmujuran dalam bercinta. Sudah banyak yang datang dan pergi dalam hidupnya dan tidak ada yang bertahan untuk mempertanggungjawab hubungan tersebut di hadapan Tuhan mereka orang per orang. Dari kisah sumpah cinta monyet sampai cinta mati, semua tetap berujung di ujung jalan yang terpisah dan linang air mata. Bagai mercusuar api yang membakar partikel daun tua gugur sekejap dan jadi masa lalu.

Benar adanya suara pragmatis bahwa dalam presentasi 99,99 %, pasanganmu adalah bekas orang lain dan sebaliknya. Belajar atau tidak belajar tetap harus terima fakta demikian itu.

Kisah perjuangan cinta One penuh hambatan, gangguan dan tantangan. Dia jatuh cinta kepada Cinta yang adalah mantan dari teman kecil akrabnya, tapi One bersikukuh karena cinta itu tentang hati bukan apa yang struktur logika – kadang kebanyakan begitu. Si One menutup pintu dan jendela bagi hatinya terhadap wanita lain karena dia sudah terlena dan meniatkan diri dengan fokus pada Sang Cinta. Fokus sekali seumur hidup seperti mati yang sekali saja selama hidup.

Komitmen sudah besar dalam hati, badai kembali menyeruak. Gangguan menghadang kembali. Kali ini adalah dari keluarga besar si One sendiri. Tapi, dengan kebulatan tekad dan bimbingan Sang Pencipta akhirnya terlewati juga dengan sukses damai jaya. Hingga akhirnya si One mengikatkan diri dengan Cinta dalam biduk rumah tangga. One itu bukan seorang romantis tapi karakternya terbentuk oleh ketenangan dan kecerdasan yang di atas rata – rata. Dan itulah senjatanya mengawal Cinta dan hidup bersamanya.

Waktu berputar, One masih terjebak dalam proses untuk menjadi lelaki yang harus bisa menjadi suami, teman baik, pelindung dalam siklus hidup yang tentunya tidak instan seperti bumbu indomie cepat – saji. Bukankah semua orang harus belajar menjadi lebih baik? Bergerak revolusioner atau evolusioner pada ujung tujuan kebaikan. One tidak sadar dia sedang menaiki komedi putar dan tidak bersama sang Cinta di sampingnya. Ada rasa kalau – kalau sang Cinta masih tinggal di masa lalu yang didambanya. Mungkin saja dengan lelaki yang disukainya. Realita yang dihadapinya terlalu tangguh untuk ditaklukkan. Tapi, Romansa tanpa ujian mungkin romansa yang tidak layak untuk dijalani.

Seharusnya . . . Sebaiknya . . . Andai saja . . .” semua harapan kosong ini menemani dalamnya penyesalan, air mata berkali – kali tidak bisa menghapusnya hingga menetes di tanah berpijaknya.

Ketika komedi putar menyejajarkan posisi mereka —pun banyakan hanya saat di bawah— disanalah Iblis itu siap menyergap dan merayap. Merusak dan mengaburkan. Cinta itu berubah menjadi taring yang menyedot darah habis, berubah menjadi cakar hitam yang mengoyak jantung hingga terurai dan terburai. Si One tidak menginginkan cinta yang kurang 0.000…dst 1% untuknya. Siapa yang mau melahap kurang dari menu makanan komplit – jika orang itu tahu ada kurangnya? Tentu tidak akan ada kecuali kepepet. Cinta bukan tentang kepepet. Ini tentang waktu yang tepat dan orang yang tepat.

Si One selalu percaya bahwa akan ada waktunya dimana semua akan lebih indah. Perjuangan menggenapi kekurangan 0.000…dst 1% dan walau harus diombang – ambing luka. Pasti akan ada waktunya.

Tiba – tiba . . .

Gubraaaaaaaaaaaak!!!

Tubuh One terpelanting dari komedi putar. Sepuluh meter tingginya dari tanah berumput basah lembab habis hujan kemarin.

Saat tahu Cinta pernah mesranya dengan lelaki lain selain One. Saat tahu Cinta mencoba menghapus memorinya dengan salah seorang yang pernah dia cinta entah kalau dia cumbu. Saat tahu Cinta mempermainkan rasa dan mengkhianati ikatannya terdahulu. Seperti  gerakan penyeimbang karma yang dejavu.

Iblis itu bernama Cinta.

Si One masih bangkit dengan mimisan dan luka di kepala, dihampirinya sang Cinta dan mengajaknya melangkah kembali. Walau tertatih.

Aku mengasihimu jauh sebelum saya mengenal fisikmu . . .” bisiknya.

Aku mencintaimu, dan itu cukup untuk memaafkan dan melupakan . . .” tambahnya.

Sekarang dan seterusnya hanya akan ada kita . . .” lirih suaranya dalam derai air mata.

Berdua, Si One dan Cinta kemudian berjalan pulang, tinggalkan tatapan penonton dan mereka yang bertaut dengan masa lalu dan sekitar yang menganggap lukanya sebagai hiburan. Ada senyum di wajah penonton sekitar komedi putar.

I’m not perfect but I love you and always be!

Kehidupan tanpa ujian memang mungkin bukan kehidupan

Tuhan di Kamar 508

Suatu hari kubertemu dengan semut hitam yang datang tanpa ijin ke ruang kamar yang saya singgahi dalam perjalanan (memanfaatkan) waktu hidup. Mahluk hitam kecil pekerja keras.

Saya langsung menangkapnya dan memasukkan ke dalam gelas kecil dalam ruangan kamar. Gelas kaca bening kutengkurapkan menangkarnya. Kupandangi dia seakan panik dalam ruang tertutup, dia tahu nyawanya terancam tanpa perlu tahu dan belajar pelajaran fisika atau kimia tetang kematian jika ketiadaan dan minimnya oksigen dalam ruang tertutup.

Mondar-mandir dia. Memanjat ke sana kemari. Gelisah atau berjuang.

Sampai akhirnya dia memutuskan berhenti di tengah ruang tak beroksigen. Kepalanya menghadap saya. Saya tidak tahu apa yang dipikirkannya. Mungkin dia hendak menyampaikan pesan atau malah menyerapah ; berdoa ; atau menangis? Saya sungguh tak tahu – menahu. Saya masih berusaha melihat tingkahnya. Hanya antena di kepala yang semakin menunduk menyembah ruang kosong.

Secara keseluruhan dia diam !!!

Kemudian seseorang membunyikan bel pintu kamar, beberapa saat, saya tunggu hingga dentingan bel berhenti. Saya tidak menunggu seorang nona cantik pemuas nafsu. Saya melangkah membukakan dan ternyata wanita pelayan kamar membawakan minuman pesanan. Saya menerimanya dan tidak memberikan tip. Tip dilarang diberikan di hotel ini. Bisa mempengaruhi kinerja dalam jangka panjang jika ketergantungan emosional pada model berkah tip ini.

Kembali saya melangkah ke arah semut yang saya gelaskan secara kejam.

Meja persegi yang di atasnya ada lampu penerang yang tidak saya nyalakan karena saat itu masih siang, cahaya matahari masih sangat terang menembus tiap celah ruang yang memberinya keleluasaan untuk menusuk menembus kegelapan tiap inci sudut kamar. Kamar nomor 508 di penginapan ini, posisinya persis menghadap kolam renang yang membuat saya bisa menikmati para mahluk (baca : wanita) yang menceburkan diri dengan pakaian minim dengan lekukan jelas di setiap inci tubuh.

Lumayan . . . Cuci mata . . . Berkah menyehatkan buat mata dan pikiran.

Di seputaran gelas yang memerangkap si semut hitam, tampak kedatangan seekor semut lainnya mengitari gelas, memanjat dan mengitari gelas, mungkin mencari celah atau bisa jadi hendak memecahkan gelasnya, karena dia mengitarinya berkali-kali. Seperti ritual manusia yang metafisis.

Semut yang mencoba ‘menolong’ kemudian berhenti di sisi kiri gelas yang menghadap tembok putih kamar dengan posisi seolah-olah berdiri, seperti memandang semut lainnya di dalam gelas. Saya tidak tahu apa hubungan mereka. Hanya sesama semut atau keluarga sedarah, sepupu, atau suami atau istri atau . . . entahlah. Kemudian saya teteskan sedikit air di dekat semut yang mau menolong, mungkin dia haus pikirku dalam upayanya. Tapi, dia tidak mendekat. Melirikpun tidak.

Kemudian saya menuju ranjang putih merebahkan diri.

Pun dia tidak memperdulikanku. Bukankah saat itu saya adalah Tuhan di ruangan itu?

Dia tidak tahu kalau hanya dengan gerakan amat sangat kecil, bisa kulepaskan semut tertawan dan menggenapi perjuangan semut di luar gelas.

Candaanku saat itu mungkin juga mirip lelucon yang sama bagi Yang Empunya Kehidupan dan Jagad Raya. Dia bisa saja memainkan ‘permainan’ yang sama, hanya saja dengan jangkauan yang lebih luas tak terbatas. Saya hanya memainkan untuk mengisi kosongnya waktu. Tanpa tahu apa dan untuk apa kehidupan dan kematian semut dalam gelas. Hidup mati si semut sungguh tak kupedulikan.

Setengah jam berlalu. Saya melirik dari ranjang ke arah gelas di meja coklat persegi dari kayu yang sudah dipoles mulus dan licin.

Semut penyelamat masih betah menunggu. Naluri binatang atau sesama pekerja keras?Saya pun melangkah mendekat dari rebahan di ranjang, menyalakan rokok, menarik kursi dari teras depan jendela yang menghadap kolam renang, masih terlihat seorang wanita menengadah ke atas ke arah saya sebelum terjun ke dalam kolam renang.

Byuuur . . . byuuur . . . byuur” (bunyi air kolam yang dijatuhi tubuh si wanita)

Saya balikkan kursi hingga sandaranya di depan, duduk menghadap gelas di atas meja. Kudekatkan wajah mengamati kesabaran si semut ‘penyelamat’. Mencoba berkomunikasi dengannya.

Mungkin, dia sudah mati” ucapku pelan.

Si semut penyelamat tetap tak menggubris.

Kemudian, kuhisap rokok cukup dalam, kutahan beberapa saat agar gumpalan asap lebih banyak tersedot.

Kukumpulkan asapnya dan kuarahkan ke semut penyelamat. Dia bergerak dan pergi pikirku sesaat.

Ekh . . . hanya panik . . . Dia tetap kembali!” Gumamku sambil tersenyum kecil.

Berkali – kali kusemburkan asap putih yang bahkan para ahli dunia manusia mengatakan itu berbahaya buat manusia —entahlah untuk bangsa semut— dalam kadar pasif.

Dia panik kembali, geraknya sama tapi selalu kembali menuju gelas dimana semut lainnya tertawan. Pergi untuk kembali.

Fiuuuh . . .” Kuhela nafas panjang.

Terlintas tanya. Seberapa sering saya bersabar seperti ini menuju tujuan. Tujuan yang terlihat di depan mata bahkan bisa dengan mudah kucapai, kutinggalkan padahal tiada ‘gelas’ penghalang sekalipun menghambat. Apalagi jika sampai ada cobaan awan gelap seperti ‘asap tebal yang meyerang secara frontal’, jangankan dua sampai tiga kali, kali pertama mungkin saya akan dan sudah mundur.

Hahahaha . . .” gelak tawa saya dalam hati.

Kupandangi cermin di belakang meja. Bayangan saya jelas tersenyum seperti menyuruh saya mengangkat gelas yang menawan si semut. Bayangan yang baik mungkin cerminan suara hati kebaikan.

Si semut penyelamat masih sabar. Dia mungkin tahu niatku. Dia mungkin melihat senyum bayanganku dalam cermin. Dia melangkah mundur dari tepian kaca gelas. Saya hembuskan isapan rokok terkahir . . . ke langit – langit kamar menuju detektor asap kamar. Asap tebal putih tertembus cahaya matahari siang. Mendekat kuangkat gelas kaca.

Semut penyelamat langsung menerobos dan mendekat. Menyentuh si semut tertawan dan mengelilinginya. Si semut tertawan masih tidak bergerak. Si semut ‘penyelamat’ kemudian menariknya ke arah tetasan air yang kujatuhkan.

tik . . . tik . . . tik . . . tik . . . tik!” lima detik kemudian semut tertawan menggeliat, antenanya digerakkan ke depan dan belakang.

Dia masih idup.

Apakah dia berucap terimakasih, atau malah memaki si semut penyelamat, saya tak tahu.

Saling menyentuhkan antena.

Para semut itupun melanjutkan langkah, entah kemana saya tak tahu dan tak mau tahu.

Semut tertawan berjalan terlebih dahulu, disusul semut penyelamat.

Bukankah hidup bagi manusia juga begitu, melanjutkan kembali ke tujuan lain setelah yang satu terpenuhi atau terlalui. Kadang beberapa yang bodoh tetap tinggal dan menunggu mati.

tamat


Jika dikabulkan sebuah permintaan ; saya mungkin tidak akan meminta kebijkasanaan seperti permintaan Raja Salomo ; saya akan meminta kamu dan bahagiamu